Wirid Wadzifah

Wirid ini dilaksanakan satu kali dalam sehari semalam, waktu wiridnya bisa dilakukan kapan saja; meliputi bacaan istighfar Wadzifah 30 X, shalawat fatih 50 X, dzikir 100 X dan shalawat jauharat al-Kamal 12 X. Praktek wirid Wadzifah adalah sebagai berikut :
a. Membaca niat untuk mengamalkan wirid wadzifah.
b. Membaca istighfar wadzifah sebagai berikut “اَسْتَغْفِرُالله َالعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَاِلهَ إلاَّهُوَالْحَيَّ الْقَيُّوْمُ.” 30x.
c. Membaca Shalawat al-Fatih sebagai berikut “اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.” 50x.
d. Membaca Tahlil : “لاَإِلهَ إلاَّالله “99x, dilanjutkan dengan bacaan “لاَإِلهَ إلاَّالله ُمُحَمَّدٌرَّسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ سَلاَمُ للهِ . “ (dipanjangkan bacaannya).
e. Membaca shalawat Jauharat al-Kamal sebagai berikut :
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِالْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِى وَنُوْرِاْلاَكْوَانِ الْمُتَكَوَّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ اْلحَقِّ اْلرَّبَّانِى اْلبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوَنِ اْلأَرْبَاحِ اْلمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِه كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ اْلمَكاَنِى اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ الَّتِى تَتَجَلّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ عَيْنِ اْلمَعَارْفِ اْلأَقْوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى طَلْعَةِ اْلحَقِّ بِا الْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ صَلاَةًتُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ “12 x .
Apabila dalam wirid lazimah aspek bacaan istighfar dengan segala ketentuannya menjadi prioritas utama, maka dalam wirid Wadzifah penekanan lebih ditujukan pada unsur bacaan shalawat.
Selanjutnya bacaan shalawat dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada makhluk yang dicintai Allah swt., yaitu Nabi Muhammad saw., beliau adalah makhluk yang mendapat gelar Habib Allah (kekasih Allah). Allah swt., memerintahkan kepada ummat yang beriman agar mengerjakan shalat, memerintah kita mengeluarkan zakat, memerintah kita berpuasa, memerintahkan kita haji, dan perintah-perintah itu tidak disertai firman : “Allah mengerjakan shalat, Allah mengeluarkan zakat, Allah berpuasa, Allah menunaikan haji”. Akan tetapi Allah swt., memerintahkan bershalawat atas Nabi Muhammad saw., dengan disertai bahkan didahului pernyataan, bahwa Allah swt., dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi Muhammad saw., dalam firmannya surat al-Ahzab ayat 56 :
إِنَّ الله َ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا
Artinya : ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya sama-sama bershalawat atas Nabi Muhammad saw., wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atas Nabi Muhammad dan sampaikan salam kepadanya”.
Ayat di atas menunjukan bahwa posisi Nabi Muhammad saw., adalah makhluk yang diistimewakan oleh Allah swt. At-Tijani menyebutnya sebagai makhluk yang paling ma’rifah (mengenal Allah) dan paling dekat pada Allah swt. Karena itu untuk menghadap dan menuju Allah swt., terlebih dulu murid harus mendekatkan diri kepada beliau dengan cara membaca shalawat. Selain itu, membaca shalawat merupakan sarana untuk meraih rahmat Allah swt. Dalam sebuah hadis dikatakan :
“Nabi Muhammad saw., adalah makhluk yang paling tahu, yang paling ma’rifat serta yang terdekat pada Allah swt. Karena itu, maka kita dalam menghadap dan menuju wushul kepada Allah swt., mendekat kepada beliau agar kita tidak bingung dan supaya kita dalam menghadap dan menuju wushul kepada Allah swt., mendekat kepada beliau agar kita tidak bingung dan supaya kita tidak salah alamat dari apa yang kita tuju dengan dengan memperbanyak membaca shalawat. Dengan memperbanyak membaca shalawat kita menjadi dekat dengannya”.
Dalam hadis lain dikatakan :
ان صلاة امتي تعرض على في كل يوم جمعة فمن كان اكثرهم على صلاة كان اقربهم مني منـزلة. (رواه البيهقي باسنادحسن)
Sesungguhnya shalawat umatku diperlihatkan kepada tiap-tiap hari Jum’at. Maka barang siapa terbanyak di antara mereka membaca shalawat atasku, merekalah yang terdekat tempatnya kepadaku. {Hadits riwayat Baihaqy dengan isnad yang hasan}.
Disamping itu pahala membaca shalawat sangat besar sekali yang sebagian seperti hadits di bawah ini :
من صلى على مرة صلى الله عليه عشرا ومن صلى على عشراصلى الله عليه مائة ومن صلى على مائة كتب الله تعالى بين عينيه براءة من النفاق وبراءة من النار واسكنه الله يوم القيامة مع الشهداء. رواه الطبرانى مرفوعا.
Artinya : ”Barang siapa bershalawat atasku satu kali, maka Allah bershalawat atas dia sepuluh kali, barang siapa bershalawat atasku sepuluh kali, maka Allah bershalawat atas dia seratus kali, maka Allah menulis di antara kedua matanya : bebas dari kemunafiqan, bebas dari neraka, dan di hari kiamat, oleh Allah dia ditempatkan bersama para Syuhada. Hadits Marfu’ Riwayat Thabrany”.

Dalam wirid Wadzifah terdapat dua jenis bacaan shalawat, yakni shalawat Fatih dan shalawat Jauharat al-Kamal.
Dalam kaitannya dengan bacaan shalawat, dalam wirid Wadzifah terdapat dua asfek penekanan yaitu aspek syukur yang didasarkan pada posisi Nabi Muhammad sebagai al-Fatih Lima Ughliq dan aspek mahabbah.
Dengan demikian selain aspek syukur yang telah dikemukakan di atas, juga membaca shalawat bagi murid mempunyai dasar mahabbah terhadap Nabi Muhammad saw. Mahabbah terhadap Nabi Muhammad saw., dibuktikan dalam amalan shalawat, sebab pada dasarnya mahabbah itu sendiri mempunyai arti yang dangat besar dalam mebina hubungan yang berkesinambungan dengan Nabi Muhammad saw. selanjutnya dalam Jawhir al-Ma’ani dikutip sebuah hadis :
يحشرالمرء مع من احبّ
“Kelak akan dikumpulkan seseorang bersama orang yang dicintainya”.
Selanjutnya dalam Jawahir al-Ma’ani dikatakan, bahwa mahabbah itu sendiri harud diikuti dengan mengamalkan sunnahnya, petunjuknya, dan mengikuti seluruh perjalanan hidupnya. Untuk lebih memantapkan mahabbah ar-Rasul, dalam Jawahir al-Ma’ani ditegaskan :
“Hendaknya murid menyesuaikan diri dengan al-Mahbub (nabi muhammad saw.) dalam segala keadaan., kemudian menghancurkan sifat-sifatnya atau memfana’kan diri untuk tenggelam dalam sifat-sifat al-Mahbub, dengan jalan menghibahkan seluruh jiwa dan raga bagi al-Mahbub, selanjutnya, menghapus segala sesuatu selain al-mahbub dari lubuk hatinya, dan akhirnya menganggap bahwa dirinya (murid) kecil dihadapan al-Mahbub”.
Dari ungkapan-ungkapan di atas, jelas sekali bahwa membaca shalawat kepada Nabi, pada dasarnya mengandung makna cinta, mengagungkan, dan diikuti dengan melaksanakan sunnah secara total.dalam kaitannya dengan ungkapan tadi, pengarang Jawahir al-Ma’ani, mengutip ayat al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 21 :
قل ان كنتم تحبّون الله فاتبعونى.
Artinya : “katakanlah wahai Muhammad, apabila kamu sekalian mencitai Allah, maka ikutilah aku.”
Ayat ini menegaskan bahwa mengikuti Rasul merupakan tanda mahabbah seseorang terhadap Tuhannya. Selanjutnya dalam jawahir al-Ma’ani dikatakan :
“Mahabbah terhadap Allah harus dibuktikan dengan mengikuti kekasih-Nya (Nabi Muhammad saw.) secara lahir dan batin, membenarkan seluruh beritanya, taat teradap seluruh perintahnya, memenuhi segala segala panggilannya, memfana’kan mahabah terhadap yang lain dengan mahabbah terhadapnya, dan memfana’kan taat kepada yang lain dengan taat kepadanya. Kalau tidak demikian, tidaklah dikatakan mahabbah, sehingga Rasul dijadikan sebagai obat hati sanubari, istirahat jiwa, dan merupakan kenikmatan ruh.”
Dengan demikian apabila murid telah merasakan keadaan-keadaan seperti disebutkan di atas, maka barulah ia bisa dikatakan sudah berada dalam maqam Mahabbah ar-Rasul. Tanda-tanda bahwa murid yang bersangkutan berada dalam Mahabbah ar-Rasul adalah :
“Ia selalu rindu untuk bertemu dengan al-Mahbub, dan terus menerus mempalajari sunnahnya”.
Konsep sukur dan mahabbah sebagaimana digambarkan di atas, pada intinya harus dibuktikan dengan kecintaan terhadap segala sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad saw., melalui pengamalan terhadap segala sunnahnya.
Dengan demikian pengamalan terhadap sunnah merupakan kunci keberhasilan murid yang bersangkutan dalam menjalani maqamnya, yakni maqam istiqamah.
Sebagaimana dikatakan dalam Jawahir al-Ma’ani : “Nabi Muhammad merupakan pintu untuk bisa wushul terhadap Allah. Seseorang jangan mengharap bisa wushul kepada-Nya tanpa melalui pintu Nabi”. Yang dimaksud dengan pintu disini, yaitu mengikuti syari’atnya, dan berahlak sebagaimana ahlaknya. Lebih tegas lagi dikatakan : “Pada dasarnya kebaikan itu hanyalah dalam mengikuti sunnah Nabi, sedangkan kejelekan berada dalam kebalikannya”.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, aspek yang ditekankan dalam wirid Wadzifah adalah bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad saw., yang ditekankan dalam wirid Wadzifah itu, dasarnya, mempunyai maksud peningkatan maqam, yakni dari maqam taubat yang ditekankan dalam wirid lazimah menuju maqam istiqamah. Yang dimaskud dengan maqam istiqamah adalah: “Teguh dalam melaksanakan sunnah, dengan harapan tertanamnya nilai-nilai ittiba’ pada Rasul dalam diri murid sebab kalau tidak demikian, ia jangan mengharap bisa naik kepada maqam selanjutnya”.
Untuk memantapkan maqam istiqamah, murid yang bersangkutan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
“Ia (Murid) senantiasa harus berhubungan dengan orang-orang yang mengamalkan sunnah dan menjauhi orang-orang yang senantiasa melakukan bid’ah Agar setiap gerak dan diamnya senantiasa berada dalam posisi taqarrub dengan Allah. Kemudian mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan syari’ah disertai dengan penyerahan pemikiran terhadap ketentuan syara’.
Selain hal di atas, bacaan shalawat dalam wirid Wadzifah mempunyai fungsi membina dan mengarahkan murid untuk sampai pada tingkat bisa “berhubungan” dengan Nabi Muhammad saw., dalam Jawahir al-Ma’ani dijelaskan apabila murid membaca shalawat Jauharat al-Kamal, maka ia ditekankan untuk lebih mengkonsentrasikan diri sampai pada tingkat bisa “menghadirkan” Rasul. Oleh karena itu dalam kaifiyat membaca shalawat Jauharat al-Kamal, ada ketentuan apabila telah sampai pada bilangan tujuh kali, maka murid harus menundukan kepala disertai perasaan khudu’ dan khusyu. Dengan demikian wirid Wadzifah diarahkan untuk membina “hubungan langsung” dengan Rasul.

Oleh : SyIB
Admin : MAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: