Wirid Lazimah

Wirid Lazimah, harus dikerjakan dua kali setiap hari (pagi dan sore) dan dilaksanakan secara munfarid (perseorangan), bacaanya tidak boleh dikeraskan. Untuk waktu pagi, pelaksanaannya adalah setelah shalat subuh sampai datangnya waktu dhuha; dan untuk waktu sore, pelaksanaannya setelah shalat ashar sampai datangnya waktu shalat ‘isya. Jika ada uzur, waktu wirid Lazimah Pagi bisa dimajukan sampai datangnya waktu Magrib; sedangkan wirid lazimah sore hari bisa dimajukan sampai datangnya waktu Subuh. Amalan wirid lazimah meliputi tiga unsur bacaan : istighfar, shalawat, dan dzikr {tahlil} . dengan ketentuan wirid sebagai berikut :
a. Membaca niat untuk mengamalkan wirid lazimah (pagi hari dan sore hari).
b. Membaca istighfar sebagai berikut : استغفر الله 100x.
c. Membaca shalawat 100x dengan sighat apa saja. Bacaan shalawat yang ringkas sebagai berikut “اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَّعَلَى آلِهِ”, namun lebih utama membaca shalawat fatih sebagai berikut :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.
d. Membaca Tahlil : “لاَإِلهَ إلاَّالله ُ “ 99x, dilanjutkan dengan bacaan “لاَإِلهَ إلاَّالله ُمُحَمَّدٌرَّسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ سَلاَمُ للهِ “ (dipanjangkan bacaannya).
Telah dikatakan bahwa amalan wirid lazimah meliputi tiga unsur : Istighfar, shalawat dan dzikir. Unsur-unsur wirid tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dalam artian masing-masing melengkapi satu sama lain :
(1) Bacaan Istighfar
Unsur bacaan ini, dimaksudkan atau berfungsi membersihkan diri dari kotoran maksiat. Sebab pada dasarnya tujuan masuk Thariqat ialah Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt. Oleh karena itu, terlebih dahulu murid harus beristighfar (minta ampunan) sebagai pembersih dan pensuci dosa. Pada intinya istighfar menjadi proses upaya menghilangkan noda-noda rohaniah dan menggantinya dengan nilai-nilai suci. Untuk itu dirujuk ayat al-Qur’an surat an-Nisa ayat 110 :
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوْءً اَوْيَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِالله َيَجِدِالله َ غَفُوْرًارَحِيْمَا
Artinya : “Barang siapa berbuat kejelekan atau menganiaya dirinya kemudian dia beristighfar (minta ampunan) pada Allah, maka Allah akan mengampuni”
Dalam sebuah hadis katakan
عن انس رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : قال الله تعالى ياابن آدم انك مادعوتنبى ورجوتنيى غفرت لك على ماكان ولا ابالي, ياابن آدم لوبلغت دنوبك عنان السماء ثم استغفرت غفرت لك ياابن آدم لواتيتني بقراب الارض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لاتيتك بقرابها مغفرة. رواه الترميدى
Dari S. Anas ra., ia berkata “Saya mendengar Rasulullah saw., bersabda : “Allah swt., berfirman : Hai anak Adam, selama kamu mendo’a kepada-Ku dan mengharap Aku, maka aku ampuni kamu atas apa saja yang yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam, andaikata dosa-dosa kamu menyundul langit kemudian kamu beristighfar, maka Kuampuni kamu. Ahai Anak Adam, andaikata kamu datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai Aku dengan tidak mensekutukan Aku sama sekali, maka pastilah Aku datang kepadamu dengan membawa sebesar bumi pengampunan. Hadits riwayat Attirmidzy.
Ayat Qur’an dan hadis Qudsi di atas menegaskan bahwa sebesar apapun kesalahan dan dosa anak Adam, apabila beristighfar dan atau bertobat, maka Allah menjanjikan, menyediakan ampunannya.
(2) Bacaan Shalawat
Unsur bacaan shalawat, dalam wirid ini, kurang mendapat penekanan. Membaca shalawat dalam wirid ini berfungsi sebagai Li at-Tabarruk (untuk mendapatkan berkah) dan washilah (perantara) supaya bacaan istighfar dan segala ketentuannya diterima oleh Allah swt. Lebih tegas at-Tijani mengatakan bahwa washilah (perantara) yang utama untuk bisa wushul (sampai) terhadap Allah adalah Nabi Muhammad saw., dan untuk bisa dekat dengan Nabi Muhammad saw., adalah melalui bacaan shalawat. Keyakinan ini didasarkan atas asar (perkataan sahabat) Ummar Ibn Khatab :
اِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوْفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلاَرْضِ حَتَّى تُصَلِّى عَلى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Artinya : “Do’a seorang hamba ditangguhkan antara langit dan bumi, sampai dibacakan shalawat kepada Nabi Muhammad saw.”.
Dalam sebuah hadis dikatakan :
صَلُّوْاعَلَىَّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ عَلَىَّ زَكَاةٌ لَكُمْ وَاسْاَلُوْا الله َلِى اَلْوَسِيْلَةَ
Artinya : “Hendaklah kalian membaca shalawat padaku, karena membaca shalawat kepadaku menjadi zakat (pembersih dan pengampun dosa kalian), dan mohonlah kepada Allah melalui wasilahku”.
Nabi Muhammad saw., banyak mengungkapkan betapa pentingnya dan keuatamaannya membaca shalawat, yang sasaran intinya adalah memohon rahmat Allah swt. Telah dikatakan, bahwa : “Apabila seseorang membaca shalawat (berdo’a) kepada Nabi Muhammad saw., satu kali, maka Allah akan memberi rahmat sepuluh kali lipat”. Hal ini menunjukan posisi Nabi Muhammad saw., dihadapan Allah berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Dengan kata lain beliau adalah makhluk yang diistimewakan oleh Allah.
(3) Bacaan Dzikr
Sebagaimana halnya bacaan shalawat, dalam wirid lazimah, bacaan dzikir juga kurang mendapat tekanan. Dalam wirid ini, dzikr dimaksudkan untuk menyatakan taubat yang sungguh-sungguh, sehingga dengan ucapan لاَإِلهَ إِلاَّالله (tidak ada tuhan selain Allah), murid seolah-olah mengatakan : “لاَيَغْفِرٌالذُّنُوْبَ إِلاَّالله ُ” “(tidak ada yang menghapus dosa kecuali Allah)”. Selain itu, dengan mengamalkan dzikr dalam wirid lazimah, diharapkan murid akan merasa sakit batinnya apabila tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat baik, dan selanjutnya akan melakukan (instropeksi) اَلْمُحاَسَبَة dengan harapan bisa memperbaiki keadaan dan sekaligus memelihara taubatnya dengan segala amal syari’at.
Dengan demikian, terdapat tiga unsur amal dalam wirid lazimah, yakni : Istighfar, shalawat kepada Nabi Muhammad saw., dan dzikr, yang pada dasarnya ditujukan bagi murid yang memantapkan maqam (peringkat) taubat. Jadi taubat adalah maqam pertama yang harus diusahakan oleh murid.
Adapun yang dimaksud dengan taubat menurut at-Tijani adalah mengembalikan diri dari kekufuran terhadap nikmat Allah, memperlihatkan sikap syukur terhadap Allah dengan jalan melaksanakan segala perintah-Nya. Taubat dilaksanakan sebagai upaya membersihkan diri dari sikap menyepelekan kewajiban syara; dan dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara; dengan kata lain, taubat adalah kembali kepada Allah dengan jalan melaksanakan syari’at Islam. Sebab pada dasarnya perjalanan yang harus ditempuh seorang murid menuju Allah sejak langkah awal sampai akhir harus menjalalankan syari’at. Tidak mungkin seseorang sampai (wushul) kepada Allah tanpa dasar syari’at. Seseorang yang menuju Allah tanpa dasar syri’at, tidak akan sampai (wushul) pada Allah, akan tetapi ia akan putus dengan-Nya.
Bahwa untuk tercapainya pelaksanaan taubat murid harus melaksanakan hal-hal berikut ini : Melepaskan diri dari dari segala perbuatan dosa, merasa sedih tehadap perbuatan dosa yang telah dilakukannya, mempunyai maksud yang kuat untuk tidak kembali kepada perbuatan maksiat, mempunyai tekad yang kuat untuk senantiasa beribadah kepada Allah dan merasa takut untuk tidak mensyukuri nikmatnya (kufur terhadap nikmatnya). Selanjutnya dikatakan, untuk terwujudnya sarat taubat tadi, ada beberapa adab (ketentuan) yang harus dilaksanakan yaitu : menghindar dari orang-orang yang senantiasa melaksanakan perbuatan maksiat dan orang yang mempunyai tabi’at yang jelek, bahkan murid harus senantiasa bergaul dengan orang-orang yang taat melaksanakan kebaikan, menjauhi tempat-tempat keramaian, yang tidak berguna dan tempat-tempat yang mengundang maksiat, dan tidak boleh banyak mengungkapkan kenikmatan nafsu syahwat.
Dengan demikian, bacaan istighfar dengan segala ketentuannya harus mendapat tekanan yang lebih besar, sehingga menghasilkan perasaan takut (khauf) terhadap siksa Allah apabila melanggar perintah-Nya
Uraian di atas menunjukan bahwa wirid lazimah pada dasarnya diarahkan untuk membina murid agar senantiasa membersihkan diri dari segala bentuk maksiat yang dianggap menyimpang dari aturan syari’at dan dari segala kelalaian-kelalaian dalam mengamalkan syari’at, sikap semacam inilah yang dimaksud dengan taubat. Banyak sekali perintah al-Qur’an agar orang beriman senantiasa melaksanakan taubat.

Oleh : SyIB
Admin : MAH

Satu Tanggapan

  1. Saya mau belajar,pernah belajar.tp pengen lbh yakin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: