Polemik tentang Thariqat Tijaniyah di Indonesia

Oleh Dr. KH. Ikyan Badruzzaman

Semenjak awal kehadirannya ke Indonesia, Thariqat Tijaniyah ini mendapat tantangan dari para ahli thariqat yang lain (non-Tijaniyah) yang cukup keras sehingga menimbulkan pertentangan diantara para ahli thariqat di Indonesia. Pertentangan dilakukan dengan berbagai cara. Pertentangan itu timbul karena adanya anggapan dari para penentang bahwa di dalam Thariqat Tijaniyah terdapat kejanggalan-kejanggalan. Pada tahun 1928 –1931 pertentangan terjadi dalam bentuk pamflet-pamflet yang berisikan tuduhan-tuduhan para penentang. Dan mereka mendapatkan rujukan ulama dari Madinah, Sayyid Abdullah Dahlan.

Pada tahun 1930 terjadi perselisihan antara pesantren Buntet, pusat Tijaniyah, dengan Pesantren Benda Kerep, anti Tijaniyah –yang sebenarnya keduanya masih mempunyai hubungan keluarga. Pada tahun yang sama, Syekh Ahmad Ganaim, guru dari Mesir datang ke pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur. Dalam kedatangannya ini, ia menyerang Thariqat Tijaniyah dengan alasan bahwa penyebar Tijaniyah menjamin para pengikutnya masuk surga. Pertentangan terhadap Tijaniyah juga diungkapkan melalui penulisan kitab-kitab sanggahan. Misalnya, Sayyid Abdullah Dahlan menulis kitab sanggahan Tanbih al-Ghafil wa Irsyad al-Mustafid al-Aqil, yang kemudian diringkas menjadi kitab Wudluh ad-Dala’il: Muhammad al-Hilali menulis kitab al-Hidayah al-Hadiyah Li al-Tha’ifah al-Tijaniyah, yang berisikan hampir sama dengan kitab sanggahan Sayyid Abdullah Dahlan. Sayyid Abdullah Dahlan menyanggah beberapa masalah dalam Thariqat Tijaniyah. Secara umum ia mengatakan bahwa dalam Thariqat Tijaniyah terdapat banyak kejanggalan dan bertentangan dengan syari’at Islam. Muhammad Al-Hilal, dalam kitabnya al-Hidayah al-hadiyah,….., dan Ali Dakhilullah dalam kitabnya al-Tijaniyat mengupas kritikan yang hampir sama dengan Sayyid Abdullah Dahlan.

Pertentangan tentang Thariqat Tijaniyah pernah dibahas dalam forum NU dan seminar Thariqat Tijaniyah di Cirebon. NU pernah membahas Thariqat Tijaniyah dalam dua kali muktamarnya: Muktamar III dan VI. Muktamar III memutuskan keabsahan (kemu’tabaran) Thariqat Tijaniyah dan muktamar VI menguatkan hasil keputusan muktamar III. Hasil keputusan kedua Muktamar itu menetapkan bahwa (1) Thariqat Tijaniyah mempunyai sanad Muttasil kepada Rasulullah saw., bersama bai’ah barzakhiyah-nya.(2) dapat dianggap sebagai thariqat yang sah dalam Islam,
Polemik ini sengaja disajikan, untuk lebih melihat bagaimana kehadiran Thariqat Tijaniyah di Indonesia.

Mengapa Terjadi Polemik
Masalah yang terpenting dalam beberapa sanggahan terhadap Thariqat Tijaniyah adalah tentang : keunggulan maqam kewalian Syekh Ahmad al-Tijani, keistimewaan Thariqat Tijaniyah, dan keistimewaan pengamal Tijaniyah.
Dalam melihat tiga hal di atas, ada beberapa kelemahan dari para penentang Thariqat Tijaniyah Kelemahan dimaksud adalah : (1) Tidak tuntasnya mereka dalam membaca dan memahami ungkapan-ungkapan Syekh Ahmad al-Tijani dan ajaran Tijaniyah, (2) Pemahaman mereka terhadap pernyataan-pernyataan Syekh Ahmad al-tijani lebih bersifat tekstual, sedangkan kalimat-kalimat ungkapan Syekh Ahmad al-Tijani banyak yang harus difahami berdasarkan pendekatan kontekstual, dan (3) mereka penentang Tijaniyah tidak mempelajari langsung dari guru-guru Tijaniyah, tetapi mereka mempelajarinya melalui pemahamannya sendiri sehingga penafsiran pemikiran mereka yang dominan lebih cenderung kurang relevan, menjadi subjektif dan bias. Tiga kelemahan para penentang dalam melihat Thariqat Tijaniyah sebagaimana disebutkan, memunculkan polemik. Sampai sekarang pertentangan dalam Thariqat Tijaniyah belum berakhir terutama melalui buku-buku yang diterbitkan dari Kerajaan Saudi Arabia, yang diikuti oleh majalah al-Risalah yang terbit di Solo.

Penyelesaian Polemik
Untuk dapat mengikuti dan atau memahami dengan baik dan benar mengenai persoalan tadi, ada tahapan-tahapan pemikiran yang harus dilalui. Lantaran penilaian, pengertian dan pemahaman yang didapat dari tahapan pemikiran akan menjadi pintu masuk dalam memahami pernyataan dan fatwa-fatwa Syekh Ahmad al-Tijani, tahapan dimaksud adalah :
Tahapan pertama, pemahaman tentang al-Haqiqat al-Muhammadiyah dan atau masyrab al-Nabawi yang melekat dalam diri Khatm al-Nabiyyin yakni Nabi Muhammad saw., sebagai sumber kenabian seluruh para nabi. Seluruh para nabi sejak Nabi Adam as., hingga Nabi Isa as., mengambil cahaya kenabian dari Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu seluruh nabi hanyalah melakukan peran kenabian Nabi Muhammad saw., sebelum lahirnya jasad beliau. Berdasarkan hadis “kuntu Nabiyyan wa Adamu Bain al-Mai’ wa al-Thin”.

Tahapan ini perlu dipahami terlebih dahulu sebagai bahan perbandingan memahami khatm al-Wilayah. Tahapan berikutnya memahami dan meyakini tentang khatm al-Wilayah dan atau masyrab kewalian yang melekat dalam diri seorang wali yang memperoleh maqam wali khatm, sebagai sumber kewalian seluruh wali-wali Allah. Seluruh wali-wali Allah sejak Nabi Adam hingga akhir zaman mengambil cahaya kewalian dari wali khatm ini, oleh karena itu seluruh wali hanya melakukan peran kewalian seorang wali yang memperoleh maqam wali khatm; yang menurut Ibn Arabi “… wa kadzalika khatm al-Awliya kana waliyyan wa Adamu bain al-Mai’ wa al-Thin”. Tahapan pemikiran ini merupakan hal yang sangat mendasar untuk bisa memasuki dan memahami pernyataan-pernyataan seorang wali yang memperoleh maqam wali khatm. Apabila pada dataran ini belum dipahami, maka sangat sulit untuk bisa memahami pemikiran dan pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani sebagai wali yang mengaku memperoleh maqam wali khatm. Sebab pernyataan-pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani yang terkait dengan keunggulan dirinya muncul dalam kapasitasnya sebagai wali khatm. Keunggulan yang melekat dan dimiliki syekh Ahmad al-Tijani sebagai wali khatm mengantarkan pada keunggulan ajaran thariqatnya, yakni Thariqat Tijaniyah. Keunggulan ajaran Thariqat Tijaniyah yang diajarkan wali khatm mengantarkan keunggulan ummat Islam yang mengikuti ajarannya.

Dengan demikian pemahaman dan penerimaan terhadap pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani tentang maqam kewaliannya merupakan syarat mutlak untuk bisa memahami terhadap pernyataan-pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani, baik tentang dirinya, ajaran thariqat dan pengikutnya. Oleh karena itu sepanjang teori kewalian khususnya teori wali khatm belum diterima, terlebih pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani terhadap maqam ini, selama itu pula Thariqat Tijaniyah akan terus dipermasalahkan dan tidak akan ada ujungnya. Namun apabila ada kelompok ummat Islam yang memahami wali khatm sekaligus menerima dan meyakini terhadap pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani terhadap maqam wali ini, hemat saya tidak ada yang perlu dipersoalkan, karena persoalan tersebut merupakan hak intelektual seseorang dalam mengimani masalah kewalian sebagai mana paparan al-Qur’an dan hadis.

Sungguhpun demikian dalam penyelesaian polemik tentang Thariqat Tijaniyah tidak sederhana, sebab pembahasan al-Haqiqat al-Muhammadiyah dan Khatm al-Wilayah termasuk pada wilayah pemikiran dan ummat Islam khususnya kaum tarekat yang mempunyai kemauan dan kemampuan memasuki wilayah ini sangat terbatas, keterbatasan ummat Islam khususnya pengikut tarekat wali Allah dalam memahami wali ini akan melihat bahwa pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani tentang wali khatm dianggap asing dan akan semakin mengagetkan apabila dihadapkan dengan pengakuan Syekh Ahmad al-Tijani, yakni tentang keunggulan dirinya, thariqat dan muridnya dan akan muncul kebingungan ketika lebih banyak melihat pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani.

Oleh karena itu sepanjang ummat Islam khususnya kaum tarekat belum mamahami apalagi menerima dan taslim terhadap penagakuan Syekh Ahmad al-Tijani, terhadap wali khatm, selamanya akan terus bertabrakan dan atau bersebrangan dengan pernyataan Syekh Ahmad al-Tijani tentang wali khatm. Dan mereka akan menganggap sebuah hal yang aneh kelompok ini tidak akan aman dari mengkritik terhadap Syekh Ahmad al-Tijani. Disarankan kepada intelektual Thariqat Tijaniyah yang menggeluti dunia keilmuan untuk lebih banyak mengkaji dan mensosialisasikan teori wali Khatm. Hal ini bisa dilakukan melalui hal-hal berikut : pertama memasukan teori kewalian menjadi Silabi Mata Kuliah Tasawuf; kedua, menyelenggarakan seminar tentang teori kenabian dan teori kewalian diluar kalangan ahli Tijaniyah, terutama dikalangan Perguruan Tinggi; ketiga mengembangkan pusat kajian tasawuf yang berkedudukan di Jakarta.

Hal ini diharapkan untuk lebih bisa menyelesaikan masalah Thariqat Tijaniyah secara bertahap, khususnya yang berkembang di Indonesia. Sebab hemat saya penyelesaian masalah Thariqat Tijaniyah, mesti dilakukan melalui pendekatan ilmiyah, melalui kajian tasawuf terutama teori kenabian dan kewalian. Sebab ada hal yang menarik dari Syekh Ahmad al-Tijani, beliau menggabungkan dua sisi dari tasawuf yang berkembang dalam sejarah Pemikiran Islam yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Sungguhpun secara amaliyah, hemat penulis Thariqat Tijaniyah dengan wirid istighfar, shalawat, dan dzikirnya merupakan hal yang disepakati oleh seluruh ummat Islam bahwa wirid tersebut merupakan amalan yang diperintahkan oleh Qur’an dan hadis. Persoalan ajaran Thariqat Tijaniyah tidak hanya sampai disitu melainkan menembus memasuki wilayah tasawuf falsafi terutama menyangkut hakekat nabi Muhammad saw., dan wali khatm. Hal ini hanya akan bisa diselesaikan melalui pendalaman tentang teori kenabian dan kewalian.

Demikianlah setitik pokok-pokok pikiran untuk bahan diskusi pada forum yang mulia ini, semoga mendorong kita untuk memahami lebih jauh tentang keagungan Syekh Ahmad al-Tijani dan keuntungan murid Syekh Ahmad al-Tijani Ra. Amin.

Garut, Zawiyah Thariqat Tijaniyah 17 Shafar 1427 H

(Makalah ini disampaikan dalam dalam
Halaqah Ilmiyah ‘Id Al-Khatm Syekh Ahmad Al-Tijani R.A ke 213
Dalam situs ini semua catatan kaki dihilangkan (pengelola).
Untuk yang membutuhkan edisi lengkapnya bisa menghubungi
Zawiyah Tarekat, Samarang Garut)

14 Tanggapan

  1. setiap thareqat mempunyai ciri khas yang sama, yaitu : mengagungkan gurunya, disinilah terkadang ada larangan seorang murid yang sudah menemukan seorang Mursyid (Syekh) dilarang berguru kepada Syekh lain,
    kenapa guru di mulyakan? karena dari guru itu lah pintu langsung menuju kehadirat Allah SWT,
    salam kenal

  2. Tidak perlu atau malah dilarang belajar kepada guru atau mursyid lain dalam tradisi tarekat adalah sesuatu yang wajar, logis dan sangat masuk akal, karenanya itu bukan masalah. Analoginya, perlukah seseorang berpergian ke satu tempat dgn dua mobil? Kalau dengan satu mobil kita akan sampai ke tujuan kenapa harus naik mobil lain? Begitulah, tarekat adalah jalan/kendaraan menuju sebuah tempat, Satu mobil saja untuk badan kita kegedean, apa-apaan pake dua mobil? Lalu bagaimana kalau ganti2 mobil, kan tidak ada larangan? Betul. Tapi itu akan memusingkan dan menyiksa dirinya yang mungkin menyebabkannya tidak akan sampai ke tujuan karena setiap mobil (tarekat) berbeda-beda jalannya atau rutenya, dan berbeda-beda pula supirnya (mursyid), tapi menuju tempat yang sama (Allah). Sederhana kan? Mudah sekali memahami tarekat.

    Mengagungkan guru? Maksudnya adalah menghormati dengan takdzim. Menghormati guru bagi seorang murid adalah wajib, etika, kepatutan dan kesopanan. Menghormati guru bahasa Inggris atau guru les komputer saja harus, apalagi guru ngaji. Penghormatan pada guru bhs Inggris lain dong dengan penghormatan kpd guru ngaji. Kepada guru ngaji pasti lebih tinggi, lebih takdzim. Sun tangan misalnya, adalah rasa takdzim itu. Tidak ada sun tangan kepada guru bhs Inggris atau guru les komputer. Di atas guru ngaji ada lagi yang lebih tinggi yaitu guru spiritual. Penghormatan dan rasa takdzim pun pasti lebih tinggi. Jadi, tidak ada yang aneh.

    Salam kembali.

  3. ismulhaq.com

  4. Khatamul Aulia hanya satu orang yaitu Imam Ibnu Arabi.
    Salam kenal dari Medan..

  5. Salam Alykum

    Mari kita lihat pernyataan dari Sheikhul Akbar Ibn Arabi r.a sendiri perihal Khatamul Aulia :

    Pada pertanyaan lain : Siapa yang berhak menyandang Khatamul Auliya’ sebagaimana gelar yang disandang Khatamun Nubuwwah oleh Nabi Muhammad SAW.? Ibnu Araby menjawab:

    Al-Khatam itu ada dua: Allah menutup Kewalian (mutlak), dan Allah menutup Kewalian Muhammadiyah. Penutup Kewalian mutlak adalah Isa Alaihissalaam. Dia adalah Wali dengan Nubuwwah Mutlak, yang kelak turun di era ummat ini, dimana turunnya di akhir zaman, sebagai pewaris dan penutup, dimana tidak ada Wali dengan Nubuwwah Mutlak setelah itu. Ia disela oleh Nubuwwah Syari’at dan Nubuwwah Risalah. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW sebagai Penutup Kenabian, dimana tidak ada lagi Kenabian Syariat setelah itu, walau pun setelah itu masih turun seperti Isa, sebagai salah satu dari Ulul ‘Azmi dari para Rasul dan Nabi mulia. Maka turunnya Isa sebagai Wali dengan Nubuwwah mutlaknya, tertapi aturannya mengikuti aturan Nabi Muhammad SAW, bergabung dengan para Wali dari ummat Muhammad lainnya. Ia termasuk golongan kita dan pemuka kita.

    Pada mulanya, ada Nabi, yaitu Adam, AS.Dan akhirnya juga ada Nabi, yaitu Isa, sebagai Nabi Ikhtishah (kekhususan), sehingga Isa kekal di hari mahsyar ikut terhampar dalam dua hamparan mahsyar. Satu Mahsyar bersama kita, dan satu mahsyar bersama para Rasul dan para Nabi.

    Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (era Ibnu Araby) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal ditahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Khatamul Wilayah darinya. Dia adalah Khatamun Nubuwwah Mutlak, yang tidak diketahui banyak orang. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirrnya.

    Sebagaimana Allah menutup Nubuwwah Syariat dengan Nabi Muhammad SAW, begitu juga Allah menutup Kewalian Muhammady, yang berhasil mewarisi Al-Muhammadiyah, bukan diwarisi dari para Nabi. Sebab para Wali itu ada yang mewarisi Ibrahim, Musa, dan Isa, maka mereka itu masih kita dapatkan setelah munculnya Khatamul Auliya’’Muhammady , dan setelah itu tidak ada lagi Wali pada Kalbu Muhammad SAW. Inilah arti dari Khatamul Wilayah al-Muhammadiyah. Sedangkan Khatamul Wilayah Umum, dimana tidak ada lagi Wali setelah itu, ada pada Isa Alaissalam. Dan kami menemukan sejumlah kalangan sebagai Wali pada Kalbu Isa As, dan sejumlah Wali yang berada dalam Kalbu para Rasul lainnya.

    Wallahu A’lam bish-Shawab.
    (source : http://www.sufinews.com)

  6. dan jika Sheikhul Akbar Ibnu Arabi r.a memang satu-satunya Khatamul Auliya, tentunya beliau tidak akan mengeluarkan statement seperti diatas khususnya statemen :

    “””Adapun Penutup Kewalian Muhammadiyah, saat ini (era Ibnu Araby) ada pada seorang dari bangsa Arab yang memiliki kemuliaan sejati. Saya kenal ditahun 595 H. Saya melihat tanda rahasia yang diperlihatkan oleh Allah Ta’ala pada saya dari kenyataan ubudiyahnya, dan saya lihat itu di kota Fes, sehingga saya melihatnya sebagai Khatamul Wilayah darinya. Dia adalah Khatamun Nubuwwah Mutlak, yang tidak diketahui banyak orang. Dan Allah telah mengujinya dengan keingkaran berbagai kalangan padanya, mengenai hakikat Allah dalam sirrnya.”””

    Wassalammu’alaykum

    faqir Tijani

  7. Ass.
    Siapun pada akhir jaman yang menjadi Hujjattulloh ; Shohibuzzaman, Penegak Keadilan ketika dunia dilanda kezoliman, tanda-tandanya telah digambarkan dengan jelas oleh Rosulallah, nubuwwatannya sudah banyak kita saksikan dan rasakan ; Insya Alloh gairah kita dalam menegakkan Dienulislam sebagai agama gerakan dalam menentang simbol-simbol kezoliman zionisme yahudi dan syeiton amerika bagian dari mahabbah dan kecintaan kita pada Sang Pecinta

  8. Assalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuh,

    Saya memiliki artikel tentang bantahan Tarekat ini, silahkan di pelajari…

    http://adanipermana.co.cc/syubhat_tarekat_tijaniyyah.htm

    Wa’alaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh,
    A Dani Permana

  9. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Abah Akyan, maaf artikel yang menarik ini saya ambil buat http://www.buntetpesantren.org kami haturkan terima kasih. INi buat pembelajaran para santri dan alumni buntet. Jazakumullah

  10. Syekh Ahmad Tijani merupakan wali Allah taal rekan dr syekh Arsyad Al-Banjari, karena sama-sama pernah belajar dengan Wali Samman.

    Salam…..
    Seriap tarekat pasti mengagungkan gurunya, karena melalui gurunya lah dia kenal Allah. wASSALAM dari banjar

  11. Ini salinan massage yang saya tinggalkan diwebsite…
    http://adanipermana.co.cc/syubhat_tarekat_tijaniyyah.htm
    Kita tunggu jawabannya nanti…

    “Salam ya akhie,
    Adakah anda pernah bermimpi bertemu nabi shallalhu’alaihi wasallam? sekali? dua kali? atau berapa kali?

    Perbahasan dalam hal ini tidak memadai sekedar logika menurut kadar pemahaman anda sedangkan ilmu itu tersangat luas. Paling penting, taman tarekat itu harus dimasuki & dilalui dengan kerendahan hati & ketulusan jiwa…kemudian baru anda bisa bahaskan dari sisi pengalaman & ilmiah yang adil.

    Bayangkan, Anda sedang membahaskan tentang ilmu geologi dengan cukup bergaya sekali seolah anda seorang pakar di dalam bidangnya sedang anda sebenarnya ahli bahasa. Bukankah itu suatu hal yang amat melucukan?
    Mudahnya lagi, Anda mungkin boleh bercakap tentang sebuah hubungan sulit suami isteri dengan cukup baik sekali tanpa anda perlu bernikah bukan?? Karena anda mungkin seorang peminat buku2 berkenaan yang berlambak dijual di pasaran di kaki2 lima.Anda boleh baca & bercerita dari pembacaan anda dengan cara anda tersendiri. tak salah pun…tapi cerita anda akan ditertawakan oleh orang yang pernah melaluinya dengan sebuah pengalaman yang sebenar karena dikesan anda bercakap dengan hanya sebuah tanggapan & andaian semata2. tidak sampai kemana pun juga…

    Saya sarankan buat anda, rasakanlah kejahilan ilmu dalam lautan Allah. Setiap apa yang anda tahu, masih ada yang lebih mengetahui. Bukankah atas langit ada langit?? jadi, saya cadangkan buat anda, jika anda merasakan diri sudah teramat alim & benar…buat sholat hajat & istikharah, mohon sungguh2 kepada Allah agar anda bisa bermimpi ketemu nabi saw & tanyakan sendiri dengan beliau saw tentang kebenaran atau kebathilan tarekat tijaniyah itu pada sisi beliau saw. Saya yakin, Anda akan dapat jawabannya…cuma pokoknya, usahakan dulu agar mimpi ketemu beliau saw. usahakan sungguh2 sehingga berjaya. Jika gagal??? maka, itu menjadi ukuran buat diri anda sendiri karena…Jika dalam mimpi pun nabi saw tak mahu ketemu anda, anda boleh nilai diri sendiri dimana kedudukan anda sebenarnya pada sisi nabi saw.tidak perlu lagi menghina orang lain yang pernah melaluinya berkali-kali dengan kebenaran & keyakinan…Karena setiap dari kalangan ahli tijaniyah telah membuat keputusan dengan ilmu & pengalaman yang dipandu dengan petunjuk Ilahi. Bukan dengan kadar akal semata2.Apapun, selamat mencoba & semoga berjaya saudaraku…saya menunggu berita dari mimpimu…”

  12. assalamualaikum
    ane dsuruh guru ponpes ane yg dulu utk ditajid karena ane drumh udh g dawamkan toriqoh tijani, selain itu itu dlatar belakangi oleh keresahan ane, makana ane konsul k guru ane, eh beliau nyuruh ditajid? lalu menurut anda apa yang harus dlkukan oleh ane? tlg balas ke email ane babaytarungderajat@yahoo.com, soalna ini penting malah sangat penting bagi ane

  13. Didalam futuhat almakiyah. Di mukasurat manakah ibnu arabi melihat khatamul auliya? Jarak diantara tahun ibnu arabi hidup dan syeikh ahmad tijani adalah beratus tahun. Bole di perjelaskan bagaimana mereka dipertemukan sebagaimana diterangkan dalam futuhat almakiyah. JazakAllah.

    • bisa jadi meski jarak yang kita nalar adalah ratusan tahun… tapi jarak yang di nalar mereka bisa cuman 1 hari. Dalam khasanah ruhani, waktu itu sangat nisbi/relatif. Kisi-kisi tentang hal itu sering disebut juga dalam Al Quran misalnya dengan istilah “satu hari yang nilainya 50 ribu tahun” dan yang semacam-semacam itu.

      Jangan lupa, para wali adalah mereka yang “Aku menjadi kaki yang dengannya mereka berjalan”.

      Maaf bila ada kesalahan mengutip…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: