Perkembangan Kepemimpinan Tarekat Tijaniyah di Garut

Dr. KH. Ikyan Badruzzaman

Sejak masuknya Tarekat Tijaniyah di Garut pada sekitar tahun 1935 hingga sekarang, Tarekat Tijaniyah telah mengalami periode kepemimpinan : (1) periode KH.Badruzzaman , (2) Periode KH. Ismail Badruzzaman, dan ketiga periode KH. Dadang Ridwan — ketiganya masih memiliki hubungan darah keturunan. Proses pengangkatan sebagai muqoddam dari ketiga pemimpin ini berbeda-beda. Tiap-tiap kepemimipinan mempunyai dinamika perkembangan masing-masing dan tiap pemimpin mempunyai corak Khas kepemimpinan. Corak khas kepemimpinan dari ketiganya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor latar belakang watak khas masing-masing dan proses pertumbuhan yang membentuk dirinya: perkembangan masing-masing periode kepemimpinan akan dibahas di bawah.

Periode KH. Badruzaman: Periode Perintisan dan Perjuangan
Pengangkatan KH. Badruzaman sebagai muqaddam, sebagai mana telah diungkapkan dimuka, berdasarkan penunjukan langsung dari Syaikh ‘Ali b. ‘Abdullah at-Toyib. Dalam pengangkatan ini KH. Badruzzaman bisa membuka, menyebarkan dan mengembangkan murid-murid secara lebih luas di daerah yang belum tumbuh dan berkembangn Tarekat Tijaniyah , terutama di Garut.

Ciri khas periode kepemimpinan KH. Badruzzaman adalah (i) periode perintisan pertumbuhan dan penyebaran Tarekat Tijaniyah dan (ii) periode perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa.
Perintisan dan penyebaran Tarekat Tijaniyah, mula-mula dilakukan KH. Badruzzaman melalui pengajaran kepada santri-santri pesantren dan masyarakat . Usahanya dalam pengajaran Tarekat Tijaniyah kepada santri-santri — walaupun Tarekat Tijaniyah bukan bagian dari kurikulum resmi pesantren — besar fungsinya untuk mempercepat perintisan penyebaran Tarekat Tijaniyah. Dari pengajaran di pesantren, Tarekat Tijaniyah kemudian menyebar secara luas di Garut. Faktor-fakltor yang mempercepat pengembangan ini diantaranya adalah loyalitas santri kepada gurunya sebab dengan loyalitasnya santri-santri berjasa mempercepat perluasan pengikut Tarekat Tijaniyah. Faktor lainnya adalah karisma KH. Badruzzaman., yang didukung beberapa faktor: Pengetahuan ilmu agama yang luas, dan disegani oleh semua kalangan di Kab. Garut, (sebagai ulama) sebagai pemimpin umat dan sebagai pejuang dalam membela bangsa (Pemimpin Politik) dengan demikian kharisma, yang telah dimiliki jauh sebelum masuk Tarekat Tijaniyah, KH. Badruzzaman sangat mudah memperoleh pengikut.

Proses kepemimpinan KH. Badruzzaman — dalam masa-masa perintisan penyebaran — juga dihadapakan dengan masa-masa sulit, yaitu perjuangan melawan pemerintah kolonial, merebut dan membela kemerdekaan bangsa RI (masa pra kemerdekaan ) dan yang kemudian perjuangan politik dengan pembangunan (paska kemerdekaan). Ada dua gerakan perjuangan yang paling menonjol dari beberapa gerakan perjuangan merebut kemerdekaan yakni gerakan “kholwat” dan “hijrah”. Gerakan perjuangan ini dilakukan oleh mayoritas warga tijaniyah bersama masyarakat lainnya, dibawah komando langsung KH. Badruzzaman, yang menempuh perjalanan panjang, dari beberapa wilayah yang saling berjauhan. Gerakan Kholwat adalah riadoh atau tarbiah rohani dalam memantapkan tauhid sebagai kader pejuang kemerdekaan sebelum di terjunkan kekancah pertempuran fisik melawan penjajah yang bergabung dengan gerakan Hisbullah secar umum praktek holwat diikuti oleh kader potensial pengikut katarekat tijaniyah dengan cara menyepi di ruang bawah tanah “ gerakan ini mengantarkan Pesantren Al-Falah sebagai pusat gerakan Hisbullah. Di pihak lain keaadan demikian menjadikan Pessantren Al-Falah sebagai target sasaran mortir serangan Belanda yang waktu itu diarahkan dari Malayu . Keadaan demikian memaksa KH. Badruzzaman untuk melakukan gerakan Hijrah “dari satu tempat ke tempat lain. Pada mulanya hijrah dilakukan antar Desa dan Kecamatan di Kab. Garut. Dari Pesantren Al-Falah ia hijrah ke Kp. Leuceun kemudian ke Kp. Sangkan dari sangkan ke Kp. Lamping dari lamping ke Kp. Nunggal kemudian Kp. Cimencek kemudian Kp. Cijugul kemudian Kp. Cidadali kemudian kawah Kamojang. Dan setiap tempat yang disinggahi menjadi sasaran serangan Belanda. Kemudian melakukan hijrah antar Kabupaten dari Garut ke Cikalong kemudian ke Majenang kemudian ke Tasikmalaya

Perjuangan dalam gerakan “Hijrah” tampaknya justru membawa hasil positif, yakni semakin bertambahnya masyarakat didaerah-daerah hijrah itu kemudian turut bergabung dengan KH. Badruzzaman dan mengikuti Tarekat Tijaniyah — belakangan daerah-daerah pengungsian menjadi basis warga tijaniyah. Perjuangan kaum tijaniyah dalam merebut kemerdekaan berlanjut dalam gerakan mengisi kemerdekaan melalui aktifitas politik dan bergabung dengan organisasi politik Masumi, sebagai wadah alternatif organisasi penyalur aspirasi politik mereka dalam usaha partisipasi mengisi kemerdekaan.

Setelah Masumi dibubarkan, pengabdian bangsa melalui politik dilakukan melalui SI ( Serikat Islam) PERTI ( Persatuan Tarbiah Islamiyah ), dan wadah-wadah lokal : Al-Muwafakah dan POE (Persatuan dalam Indonesia). Meskipun pejuangan meraih kemerdekaan dan mengisi kemedekaan cukup menyita aktifitas Tarekat Tijaniyah, aktifitas Tarekat Tijaniyah pembinaan, pengamalan wirid, dan pengajaran kepada murid-murid terus berjalan; pengabdian kepada agama melalui pendidikan santri-santri pesantren, masyarakat dan pembinaan murid-murid tijaniyah menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi KH. Badruzzaman pada masa kepemimpinannya di Tarekat Tijaniyah. Pada masa kepemimpinannya, KH. Badruzzaman pernah mengangkat Muqaddam (Muqayad) sebanyak sepuluh orang di berbagai daerah untuk membina untuk membina muri-murid tijaniyah di daerah masing-masing. Kepemimpinannya yang berlangsung selama sekitar 45 tahun menghasilkan ribuan murid tijaniyah di Garut (ia wafat tahun 1972).

Periode KH. Ismail Badruzzaman : Periode Pengembangan
Pengangkatan KH. Ismail Badruzzaman (tahun 1970) sebagai muqaddam (mutlak) berdasarkan penunjukan orang tuanya, setahun sebelum orang tuanya meninggal, dan disaksikan oleh para muqaddam (muqayyad) beserta tokoh tijaniyah lainnya. KH. Badruzzaman mengangkat KH. Ismail Badruzzaman sebagai muqaddam menggantikan kedudukan ayahnya hanya berdasarkan orang tua yang menjelang udzur, yang yakni kelak putra ini yang mampu mengganti kedudukannya walaupun pertimbangan ini bagi yang lain dianggap kurang jelas. Cara pengangkatan demikian sangat menimbulkan keraguan, bagi KH. Ismail sendiri — apalagi — orang lain. Upaya yang dilakukan oleh KH. Ismail Badruzzaman untuk memantapkan hati dan menghilangkan keraguan ini, sebelum melangkah melaksanakan tugas kepemimpinan, adalah : silaturrahmi dan konsultasi dengan para ulama besar dilingkungan keluarganya yang dianggap lebih tua, lebih senior, dan lebih pantas; mengadukan persoalan yang diragukan kepada orang tua; serta silaturrahmi kepada ulama-ulama lain. Hasil silaturrahmi dan konsulatasi yang positif dari berbagai pihak ini yang menjadi bekal kesiapan KH. Ismail Badruzzaman mengemban amanat sebagai muqaddam; yang kemudian dilakukan oleh keputusan musyawarah ahli Tarekat Tijaniyah .

Ciri yang menonjol dari kepemimpinan KH. Ismail Badruzzaman adalah, baik tingkat internal maupun eksternal, pengembangan internal berupa pengembangan hubungan dan kerjasama antara sesama ikhwan tijaniyah di Garut dijawa Barat, dan sepulau Jawa; pembangunan eksternal berupa jalinan hibungan dengan pemerintah dan organisasi sosial-politik.
Pengembangan internal diantarnya: pembinaan-pembinaan jamaah secara intensif melalui pembinaan murid-murid dan ilmu ilmu-ilmu agama; pengembangan dan peran kemasyarakatan; dan penataan administrasi organisasi. Langkah pertama pembinaan ini adalah penggemblengan kader-kader muda tijaniyah dalam gerakan khalwat atau munajat. Hasil gerakan ini diantaranya adalah membukakan kesempatan pemersatuan antara ikhwan tijaniyah di Garut dan di Jawa Barat, pada umumnya yang pada akhirnya, timbul tradisi tahunan ’Idul-Khatmi19 untuk menjalin ikhwan tijaniyah seluruh Indonesia.

Pengembangan selanjutnya adalah pembenahan secara terprogram : Pembinaan secara intensif tiap-tiap daerah murid-murid tijaniah; penjadwalan tugas-tugas muqaddam untuk membina dan mengisi materi-materi pengajian di tempat-tempat hailalah secara bergiliran; dan penataan administrasi Tarekat Tijaniyah diantaranya herregistrasi anggota dan pembentukan kartu anggota 20– walaupun program ini kemudian berhenti kembali dan sampai hilang data-datanya.
Pengembangan hubungan eksternal dijalin melalui hubungan dengan pemerintah dan organisasi sosial-politik. Hubungan baik dengan pihak-pihak ini dilakukan oleh KH. Ismail Badruzzaman yang diikuti oleh tokoh-tokoh tijaniyah yang lain. Hubungan yang demikian mempengaruhi warna pengembangan aktifitas Tarekat Tijaniyah, serta mempengaruhi murid-murid tijaniyah. Hubungan kedua pihak membawa hasil-hasil positif bagi warga Tarekat Tijaniyah : (a) beberapa tokoh tijaniyah direkrut oleh pemerintah menjadi anggota DPRD tingkat satu dan DPRD tingkat dua21 jalinan hubungan timbal balik antar kedua pihak terutama sejak KH. Ismail Badruzzaman dan beberapa anggota lain masuk anggota Golkar; (b) memperluas jaringan dakwah Tarekat Tijaniyah dikalangan pemerintah, hasil ini terlihat dengan masuknya beberapa pejabat pemerintah menjadi pengikut Tarekat Tijaniyah ; (c) Tarekat Tijaniyah memperoleh pasilitas kemudahan-kemudahan dalam menyelenggarakan aktifitas Tarekat Tijaniyah; dan beberapa hasil positif lainnya.
Keseluruhan aktifitas diatas menunjukan bahwa periode kepemimpinan KH. Ismail adalah periode pengembangan. Pada masa kepemimpinannya, KH. Ismail pernah mengangkat badal muqaddam sebanyak 14 orang.23 KH. Ismail memegang kepemimpinan selama 20 tahun (1971 – 1991). Ia wafat 29 September 1991.

Periode KH. Dadang Ridwan : Periode Konsolidasi Ilmu
Pengangkatan KH. Dadang Ridwan sebagai muqaddam mutlak berdasarkan hasil musyawarah sesepuh tijaniyah Garut ( dalam acara 40 hari wafatnya KH. Ismail Badruzzaman). Cara pengangkatan demikian berbeda dengan cara pengangkatan sebelumnya yang melalui penunjukan oleh pimipinan sebelumnya. Ciri yang menonjol dari kepemimpinan KH. Dadang adalah konsolidasi pada orientasi ilmu agama ( mengajar dan mengaji ). Kepemimpinan KH. Dadang yang lebih memusatkan pada pengajian karena proses pertumbuhan dirinya sejak muda lebih banyak diaktifkan pada pengajian sehinga ia tidak tahu —atau belum— pernah aktif diorganisasi kemasyarakatan (ormas) islam manapun, dan tidak memihak pada ormas manapun. Tepatnya, KH. Dadang lebih menekuni bidang keulamaan, yang menekankan pengembangan ilmu-ilmu agama di Pesantren.

Ciri khas yang demikian mempengaruhi warna kepemimpinan dan program-program yang dilakukan oleh Tarekat Tijaniyah, sehingga program-program tijaniyah lebih besar dikonsentrasikan pada pengajian kepada santri-santri di pesantren, pengajian-pengajian untuk masyarakat luas, pengajian-pengajian untuk pemecahan agama yang di hadapi masyarakat (masa’il ad-diniyah), dan terutama pengajian-pengajian untuk kalangan murid-murid Tarekat Tijaniyah dan murid-murid santrinya. Ada dua hal yang menonjol pada periode ini : Berdirinya Zawiyah dan pengembangan Ijtima Wadzifah Haelalah. Zawiyah adalah Mufrad dari zawaya yang berarti sudut dalam teologi tassauf Zawiyah berarti tempat untuk melakukan pengamalan dan pengembangan suatu tarekat misalnya dikenal zawityah Syekh Abdulqdirjaelani, Zawiyah Syekh Ahmad at-Tijani. Zawiyah bisa juga disebut pesantren Tasawuf atau tarekat. Zawiyah tarekat trijaniah berarti pesantren yang mendalami tarekat tijaniyah. Pada tahun 2003 M di Zawiyah tarekat tijaniayah dimulai kajian kitab tarekay tijaniyah yang pada waktu itu kitab Yaqutatulfaridhah yang diberi sarah dengan judul adurratulharidah karangan tersebut berbentuk nadzoman. Kitab ini memberikan pemahaman mendalam tentang keunggulan Syekh Ahmad At-Tijani sebagai wali Khotam dan tarekat tijaiyah yang diikuti oleh jama’ah tarekat tijaniyah. Informasi ilmiah dari kitab ini membangun kegairahan intelektual dalam memahami tarekat tijaniyah. Hikmah dari kajian kitab tersebut membuka peluang dibahasnya keunggulan Syekh Ahmad At-Tijani sebagai wali Khotam dan tarekatnya. Dalam setiap ijtima wadzifah dan haelalah.[]

3 Tanggapan

  1. Salaam

    This mesage is most urgent
    My name is Mavoungou Jean-Michel aka Muhammad Isa

    I am the Personal Secretary and Overseas Representative of the Sheikh El Hadj el Mishry, from Mauritania, Muqqadim of the Sheikh Ibrahim Niass from Kaolack, Senegal, from the Tijani Community of Matamoulana,

    The Sheikh wishes to send you his salaams and is planning a visit from Mauritania to the Island of Java to meet with the Tijani brothers and sisters there. The Sheikh is a well known ‘aalim and Haafidh Specialist of Haadith and a great ‘aarif biLlahi.

    I have been entrusted to prepare his ziyyara to your august community and would like, therefore, to establish contact as soon as possible with the Heads of the Tijani community in Java and possibly elsewhere on other islands or main land Indonesia

    I would respectfully ask you to respond asap and would very much value your cooperaion to prepare this historic visit….as the Sheikh is accustomed to visiting brothers and sisters throughout the world.

    You cas get in touch with me over the telephone, in Geneva, Switzerland or of course via email at the following addresses:
    jmavoungou@africanunion.ch
    isa786@hotmail.com
    isa786@romandie.com
    isa786@consultant.com
    jmmavongou@yahoo.fr

    I look forward to establish contact as soon as possible in order to start planning ahead and prepare the visit as efficiently as possible
    I am a Diplomat at the Permanent Delegation of the African Union in Geneva and am at your disposal for any information you might have about the Sheikh and our community

    Wassalaam
    Muhammad Isa Mavoungou
    Geneva, Switzerland

  2. assalamu`alaikum…

  3. Assalamualaikum Wr.Wb.
    Saya mungkin termasuk muhibbin ,bermaksud ingin mengeta hui secara mendalam tentang Tijani.Alhamdulillah dengan adanya situs ini saya bisa mengenal tijani khususnya garut, saya mohon kepada Yth.Kh.Dr Ikyan Badruzzaman untuk menu liskan/menyusunkan nama-nama Muqoddan dari periode awal sampai periode sekarang. saya ingin tahu siapa-siapanya dan dari daerah mana, ini khususnya yang ada di garut.
    terima kasih atas kesediaannya.semoga menjadi amal yang baik.. Amin Yaa Robbal Alamin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: