Karakteristik Amalan Wirid Istighfar

Apabila dirujuk, pola istighfar yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw., sebagai mana terdapat dalam hadis-hadis shahih, maka akan ditemui dua pola istighfar. Pertama pola istighfar yang diakhiri dengan kalimat وَاَتُوْبُ إلَيْكَ “(Aku bertobat kepada Allah)” sebagaimana teks berikut :
أسْتَغْفِرُ الله َالْعَظِيْمَ اَلَّذي لاَإِلهَ إِلاَّهُوَالْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ إلَيْكَ
Kedua, pola istighfar yang tidak diakhiri dengan kalimat وَاَتُوْبُ إلَيْكَ , sebagamana teks berikut :
أسْتَغْفِرُ الله َالْعَظِيْمَ اَلَّذي لاَإِلهَ إِلاَّهُوَالْحَيَّ الْقَيُّوْمُ
Kedua pola istighfar tersebut sama-sama pernah dilakukan oleh Rasulullah saw., dan mempunyai fungsi yang berlainan.
Dengan melihat kepada dua pola istighfar yang diajarkan Nabi Muhammad saw., amalan Thariqat Tijaniyah mempergunakan pola yang tidak disertai dengan kalimat tersebut. Dalam Fath al-Rabbani dikatakan, bahwa hal ini merupakan penyelamatan diri dosa yang timbul dari bacaan istighfar itu sendiri, sebab menurutnya, tambahan kalimat tersebut mengandung arti bahwa orang yang membaca istighfar tersebut telah mengklaim dirinya sebagai orang yang melaksanakan thaubat (tobat). Apabila dalam kenyataannya ia tidak melaksanakan thaubat dengan sungguh-sungguh, misalnya ia tetap melaksankan maksiat terhadap Allah, dengan sendirinya secara tidak disadari, ia telah melakukan dosa dari dua sisi. Pertama, dosa dari perbuatan maksiat itu sendiri, dan kedua, dosa dari bacaan istighfarnya. Lain halnya dengan pola istighfar yang tanpa kalimat وَاَتُوْبُ إلَيْكَ melalui bacaan istighfar, hanya minta ampunan Allah swt.
Sungguhpun demikian ada persyaratan mutlak bagi orang yang mau diterima dilingkungan Thariqat Tijaniyah adalah orang yang mau berthaubat dan menyesali perbuatan dosanya, dan mau melaksanakan semua kewajiban Thariqatnya, melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, lebih mementingkan kebersihan hati dari segala macam penyakitnya yang samar dan menjauhi segala perbuatan maksiat lahir, disiplin dalam melaksanakan kewajiban yang bersifat individual (fardu a’in) dan memperbanyak amaliah penebus dosa. Diantara amaliah penebus dosa adalah membaca istighfar.
Agaknya pola istighfar yang terdapat dalam wirid thariqat tijaniyah, sekalipun tanpa memakai kaimat وَاَتُوْبُ إلَيْكَ apabila dihubungkan dengan beberapa ketentuan bagi setiap murid, maka membaca istighfar sudah mengandung pengertian melaksanakan thaubat.
Pilihan pola demikian bagi thariqat tijaniyah, dimaksudkan untuk meletakan kedisiplinan pada konsekuensi kejujuran dan keserasian antara ucapan dan perilaku, bukan kesimpangsiuran antara ucapan, tingkah laku dan hati nurani.

Oleh : SyIB
Admin : MAH

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.