Wirid Hailallah

Wirid hailallah, dilaksanakan satu kali dalam seminggu, yakni pada setiap hari Jum’at setelah shalat ashar dengan cara membaca dzikr لاَإِلهَ إِلاَّالله “(tidak ada Tuhan selain Allah)” atau Ism al-Dzat (الله) yang dilaksanakan secara berjama’ah sampai datangnya waktu Maghrib. Pengalokasian waktu hailallah pada hari jum’at setelah shalat ashar, berkaitan dengan waktu mustajab (saat ijabah). Dalam hadis dikatakan bahwa di akhir waktu ashar pada hari Jum’at terdapat waktu mustajab.
Apabila wirid hailallah dilakukan munfarid (sendirian) karena ada halangan, misalnya, maka harus dilaksanakan dengan ketentuan membaca dzikir sebanyak 1600 kali atau minimal 1000 kali, dan tidak di haruskan sampai datangnya waktu Maghrib.
Praktek Wirid hailallah sebagai berikut :
a. Membaca niat untuk mengamalkan wirid hailallah.
b. Membaca dzikir mulai selesai shalat ashar sampai waktu maghrib. Apabila dilaksanakan munfarid membaca dzikir minimal 1000x, maksimal 1600x..
Apabila dalam wirid lazimah, ditekankan untuk membersihkan diri dari segala bentuk kotoran maksiat dengan dasar amalan istighfar, kemudian membina komitmen dengan Rasul dengan jalan mengamalkan segenap sunnahnya bahkan sampai pada tingkat bisa “berhubungan” dengan Rasul secara langsung melalui amalan dasar shalawat sebagaimana terdapat dalam wirid Wadzifah, maka dalam wirid hailallah, penekanannya ditujukan terhadap amalan dzikir.
Amalan dzikir dalam hailallah dibaca oleh murid setelah bersih dan suci melalui bacaan istighfar dan setelah mendekatkan diri kepada pembimbing utama yakni Nabi Muhammad saw., selanjutnya ia menuju benteng Allah swt., dengan dzikir, tentang hal ini dalam hadis dikatakan :
اَفْضَلُ مَا قُلْتُ اَنَاوَالنَّبِيُوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَاِلهَ اِلاَالله
“Seutama-seutama apa yang diucapkan olehku dan nabi-nabi sebelum aku ialah : La ilaha Illallah.”
Dalam hadis lain dikatakan :
لاَاِلهَ اِلاَالله حِصْنِيْ وَمَنْ دَخَلَ حِصْنِيْ اُمِنَ مِنْ عَذَابِيْ.
“La ilaha Illallah adalah benteng-Ku dan barangsiapa yang masuk benteng-Ku, maka dia selamat dari siksa-Ku.”
Dalam wirid hailallah, amalan dzikir mempunyai fungsi menggerakan ruh untuk membangun tauhid zauqi.
Amalan dzikir dalam hailallah mendidik murid senantiasa komitmen dengan Allah secara lahir dan batin, sehingga yang digoreskan dalam hati dan yang diucapkan oleh lisan yakni zikir, berjalan terus menerus. Hal ini dimaksudkan untuk menolak setiap goresan jelek dalam pikiran. Sehingga akhirnya, menghasilkan pikiran yang jernih (bersih) dari goresan-goresan selain Allah, akhirnya sampai pada maqam kewalian. Selanjutnya dikatakan, amalan zikir, pada dasarnya merupakan dasar-dasar amalan yang harus di kembangkan oleh para murid untuk mencapai kewalian. Hal ini, berarti bahwa inti ajaran zikir dalam thariqat tijaniyah, adalah mengarahkan murid untuk sampai pada tingkat atau derajat kewalian dan ini hanya akan dapat ditempuh setelah ia menata maqam persiapan yakni maqam Taubat yang ditekankan dalam wirid lazimah dan maqam istiqamah yang ditekankan dalam wirid Wadzifah.

Oleh : SyIB
Admin : MAH

About these ads

Satu Tanggapan

  1. saya banyak menggamalkan dzikir dengan meminta seseuatu.bukankah dzikir mendekatkan pd yg esa tanpa minta balasan tyus hukum saya itu apa ustad?

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: