Tentang Hakekat Nabi Muhammad (Haqiqat al-Muhammadiyyah)

Ibn Arabi, menjelaskan bahwa semua Nabi as., semenjak Nabi Adam as., sampai Nabi Isa ibn Maryam as., semuanya mengambil al-Nubuwwah (ke-Nabian) dari tempat cahaya Khatm al-Nabiyyin yakni Nabi Muhammad saw., sekalipun wujud jasmaninya di akhir. Sebab pada Hakekatnya Khatm al-Nabiyyin telah wujud. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. :
كُنْتُ نَبِيًا وَآدَمَ بَيْنَ المَاءِ وَالطِِّيْنِ.
“Aku telah menjadi Nabi Ketika Adam as., masih berada antara air dan tanah”.

Dalan memahami sabda Nabi saw., ini, Ibn Arabi menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw., telah diangkat jadi Nabi sebelum lahirnya jasad Beliau di dunia ini, dan Beliau mengetahui ke-Nabiannya, dengan demikian secara Hakekat bahwa Nabi Muhammad saw., sejak di Alam arwah telah berfungsi sebagai Rasul kepada ummat manusia sejak awal manusia melalui para nabi dan Rasul-rasul Allah.
Tentang Maqam Nabi Muhammad tersebut, dalam Surat Saba ayat 84 Allah Berfirman :
وَمَا اَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَّلكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُوْنَ.
Artinya : “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pembawa peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kenabian para nabi dan kerasulan para rasul merupakan pelaku yang dipilih Allah untuk menjalankan roda kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw. Sebab secara fisik Nabi Muhammad Saw., lahir diakhir. Oleh karena itu, secara syari’at, Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi ketika turunnya Lima Ayat dari surat al-‘Alaq di Gua Hira yakni pada hari Senin 17 Ramadhan atau tanggal 6 Agustus tahun 600 M., ketika itu Beliau berumur 40 tahun Komariyah 6 Bulan 8 Hari kemudian 3 tahun kemudian diangkat menjadi Rasul terakhir melalui turunnya Surat al-Mudatstsir sedangkan selain Khatm al-Nabiyyin, mereka tidak diangkat menjadi Nabi, dan tidak tahu pada ke-Nabiannya kecuali pada waktu ia diutus setelah Wujud dengan unsur Badaniyahnya dan sesudah sempurna syarat-syarat ke-Nabiannya.

Menurut Syekh Ahmad al-Tijani pada dasarnya ruh Sayyidina Muhammad adalah awal segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan melalui perantara ruh inilah terjadi seluruh Alam.

Pada bagian lain Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa Nur Nabi Muhammad saw., telah wujud sebelum makhluk lain ada, bahkan Nur ini merupakan sumber semua Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Selanjutnya dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Nur Nabi Muhammad saw., menurut Syekh Ahmad al-Tijani adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyah.

Selanjutnya dikatakan, bahwa pada dasarnya tidak seorangpun dalam martabat al-Haqiqat al-Muhammadiyah bisa mengetahuinya secara utuh. Pengetahuan orang shalih (Wali, Sufi) terhadap al-Haqiqat al-Muhammadiyah ini berbeda-beda sesuai dengan maqamnya masing-masing. Dalam hal ini Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan :

…طائفة غاية ادراكهم نفسه صلى الله عليه وسلم وطائفة غاية ادراكهم قلبه صلى الله عليه وسلم وطائفة غاية اداكهم عقله صلى الله عليه وسلم وطائفة وهم الاعلون بلغوا الغاية القصوى فى الادراك فادركوا مقام روحه صلى الله عليه وسلم.
“Diantara wali Allah ada yang hanya mengetahui jiwanya (al-Nafs) saja, ada juga yang sampai pada tingkat hatinya (al-Qalb), ada juga yang sampai pada tingkat akalnya (al-Aql), dan maqam yang tertinggi adalah wali yang bisa sampai mengetahui tingkat ruhnya; tingkat ini merupakan tingkat penghabisan (al-Ghayat al-Quswa).”

Rumusan mengenai Nur Muhammad {haqiqat al-Muhammadiyyah} ditegaskan melalui dua shalawat yang dikembangkan dalam wirid thariqat tijaniyah yakni shalawat fatih dan shalawat Jauharat al-Kamal :

a. Tentang Shalawat Fatih
Diantara rukun wirid wadzifah adalah membaca shalawat fatih sebanyak 50 kali. Berikut teks bacaan shalawat fatih :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلَى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلَى اَلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.
Artinya : “Yaa Allah limpahkanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad saw., dia yang telah membukakan sesuatu yang terkunci (tertutup), dia yang menjadi penutup para Nabi dan Rasul yang terdahulu, dia yang membela agama Allah sesuai dengan petunjuk-Nya dan dia yang memberi petunjuk kepada jalan agama-Mu. Semoga rahmat-Mu dilimpahkan kepada keluarganya yaitu rahmat yang sesuai dengan kepangkatan Nabi Muhammad saw”.
Syarah kandungan shalawat Fatih…, walaupun shalawatnya diakui dari Nabi Muhammad saw; mencerminkan pemikiran faham tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani serta pengaruh tasawuf Filsafat terhadap pemikiran Syekh Ahmad al-Tijani.
Makna al-Fatih li ma Ughliq pada intinya adalah :
1) Nabi Muhammad adalah sebagai pembuka belenggu ketertutupan segala yang maujud di alam.
2) Nabi muhammad sebagai pembuka keterbelengguan al-Rahmah al-Ilahiyyah bagi para makhluk di alam.
3) Hadirnya Nabi Muhammad menjadi pembuka hati yang terbelenggu oleh Syirik.
Sedangkan makna al-Khatimi li ma Sabaq pada intinya adalah :
1) Nabi Muhammad sebagai penutup kenabian dan kerasulan.
2) Nabi Muhammad menjadi kunci kenabian dan kerasulan.
3) tidak ada harapan kenabian dan kerasulan lagi bagi yang lainnya.

Pemikiran-pemikiran (faham) tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani terkandung dalam penafsirannya tentang makna al-Fatih li ma Ughliq dan al-Khatim li ma Sabaq. Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa al-Fatih li ma Ughliq mempunyai makna bahwa Nabi Muhammad merupakan pembuka segala ketertutupan al-Maujud yang ada di alam. Alam pada mulanya terkunci (mughallaq) oleh ketertutupan batin (hujbaniyat al-Buthun). Wujud Muhammad menjadi “sebab” atas terbukanya seluruh belenggu ketertutupan alam dan menjadi “sebab” atas terwujudnya alam dari “tiada” menjadi “ada”. Karena wujud Muhammad alam keluar dari “tiada” menjadi “ada”, dari ketertutupan sifat-sifat batin menuju terbukanya eksistensi diri alam (nafs al-Akwan) di alam nyata (lahir). Jika tanpa wujud Muhammad, Alah tidak akan mencipta segala sesuatu yang wujud, tidak mengeluarkan alam ini dari “tiada” menjadi “ada”.

Syekh Ahmad al-Tijani juga mengatakan bahwa awal segala yang maujud (awal maujud) yang diciptakan oleh Allah dari eksistensi al-Ghaib adalah Ruh Muhammad {nur Muhammad}.
Nur Muhammad telah diungkapkan oleh Nabi Muhammad saw., ketika tiu Jabir bin Abdullah bertanya kepada Nabi Muhammad saw., tentang apkah yang paling awal diciptakan oleh Allah Swt., Nabi menjawab :
ياجابر ان الله اتعالى خلق قبل الاشياء نور نبيك
“Wahai Jabir, sesungguhnya Allah swt., sebelum menciptakan sesuatu terlebih dahulu menciptakan nabimu {nur Muhammad}.”
Selain istilah nur Muhammad digunakan juga istilah lain sebagai penegas keberadaannya, yaitu ruh Muhhamad, nur, al-‘Aqju awwal dan al-Haba.

Dari ruh Muhammad ini kemudian Allah mengalirkan ruh kepada ruh-ruh alam. ruh alam berasal dari ruh Muhammad, ruh berarti kaifiyah. Melalui kaifiyah ini terwujudlah materi kehidupan. al-Haqiqat al-Muhammadiyyah adalah awal dari segala yang maujud yang diciptakan Allah dari ¬hadarah al-Ghaib (eksistensi keGhaiban). Di sisi Allah, tidak ada sesuatu yang maujud yang diciptakan dari makhluk Allah sebelum al-Haqiqat al-Muhammadiyyah ini tidak diketahui oleh siapapun dan apa pun. Di samping sebagai pembuka, Nabi Muhammad juga sekaligus sebagai penutup kenabian dan risalah. Oleh karena itu, tidak ada lagi risalah bagi orang sesudah Nabi Muhammad. Nabi Muhammad juga sebagai penutup bentuk-bentuk panampakan sifat-sifat Ilahiyyah (al-Tajaliyyah al-Ilahiyyah), yang menampakan sifa-sifat Tuhan di alam nyata ini.
Kandungan shalawat fatih mengenai pemikiran Syekh Ahmad Al-Tijani tentang al-Haqiqat Muhammadiyyah lebih tampak lagi dalam shalawat jauharat al-kamal.
b. Tentang Shalawat Jauharat al-Kamal
Berikut teks Shalawat Jauharat al-Kamal :
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِالْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِى وَنُوْرِاْلاَكْوَانِ الْمُتَكَوَّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ اْلحَقِّ اْلرَّبَّانِى اْلبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوَنِ اْلأَرْبَاحِ اْلمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِه كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ اْلمَكاَنِى اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ الَّتِى تَتَجَلّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ عَيْنِ اْلمَعَارْفِ اْلأَقْوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى طَلْعَةِ اْلحَقِّ بِاالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ صَلاَةًتُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ
Artinya : “Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad. Ia adalah haqiqat rahmat sifat-sifat Tuhan, ia bagaikan mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, ia yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, ia yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, ia yang membawa (mempunyai) agama Allah, ia adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyyah (Hakekat Muhammad, Nur Muhammad) yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalirnya rahmat Tuhan kepada setiap orang yang menghadap-Nya., seperti halnya para nabi dan para wali, ia yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat. Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad yang menjadi ‘ain al-Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran)., telah tampak dari padanya seluruh

Hakekat keadilan yang seperti ‘arsy (gudang) sebagi sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu agama Allah yang adil, sempurna dan istiqamah. Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamtan-Mu kepada Nabi Muhammad yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli (penampakan lahir)-Mu, ia yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, ia tempat datangnya kasih-Mu, ia yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui haqiqat (Hakekat) sesungguhnya Nabi Muhammad”.

Bacaan Shalawat Jauharat al-Kamal ini, tampaknya lebih menjelaskan atau menafsirkan kalimat yang terdapat dalam shalawat fatih yakni kalimat اَلْفَاتِحِ لِمَاأُغْلِقَ””. Misalnya, shalawat tersebut mengungkapkan sifat-sifat Nabi Muhammad saw., sebagai Hakekat rahmat dari sifat-sifat Tuhan, yang merupakan pusat pengetahuan. Kemudian dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw., sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah yang memiliki sifat Tuhan, yang mengalir dan menyinari keseluruh alam. Selanjutnya dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw., sebagai wujud yang paling sempurna.

Ungkapan sifat-sifat Nabi Muhammad di atas, menunjukan bahwa Syekh Ahmad Al-Tijani merumuskan maqam Nabi Muhammad sebagai mana telah dikemukakan sufi-sufi terdahulu, terutama dalam mensifati pemahaman mereka terhadap haqiqat (Hakekat) Muhammad, tidak dapat dibantah bahwa ia sependapat, bahkan ia menjelaskan konsep dasar tersebut.

Hal ini, menunjukan bahwa dari aspek pemikiran, Syekh Ahmad al-Tijani menganut tasawuf falsafi sedangkan konsep-konsep dasar tasawufnya : nur Muhammad, Ruh Muhammad, al-Haqiqat al-Muhammadiyyah. Dengan demikian, bahwa corak (paham) tasawuf yang digunakan oleh Syekh Ahmad al-Tijani adalah corak (paham) tasawuf yang dikembangkan oleh ‘Abd al-Karim al-Jili dengan konsep dasar al-Insan al-Kamil, yang berasal dari Ibn Arabi dengan konsep Haqiqat al-Muhammadiyah.. Terlepas apakah Syekh Ahmad al-Tijani terpengaruh oleh pemikiran filosofis Abd. Karim al-Jili yang berasal dari Ibn. ‘Arabi atau tidak, corak pemikiran tasawuf demikian dikembangkan oleh dua sufi tersebut. Sekali lagi, hemat penulis, pemikiran Syekh Ahmad al-Tijani “mengawinkan”, menyatukan kembali dua corak {faham} tasawuf yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang telah “bercerai” sejak abad ketiga Hijri sehingga masing-masing mempunyai metodologi tersendiri.

Inilah yang dimaksud bahwa Thariqat Tijani merupakan thariqat yang terakhir dan seluruh thariqat akan mausk kedalam lingkup ajarannya, dalam arti seluruh amalan sufi {wali} dan seluruh corak pemikiran para sufi terakomodir dalan ajaran thariqat yang dikembangkannya, hal ini bisa dimengerti karena cahaya maqam wali khatm merupakan sumber seluruh cahaya kewalian. Sebagai perbandingan seluruh syari’at para nabi terakomodir kedalam syari’at Nabi Muhammad Saw., karena syari’at para nabi bersumber dari cahaya Khatm an-Nabiyyin.
Disinilah keunggulan Syekh Ahmad Al-Tijani, dan hal ini, lebih mengukuhkan keabsahan dirinya tentang kepemilikannya terhadap maqam wali khatm sebagai mana pembahasan berikut ini:

Oleh : SyIB
Admin : MAH

Dasar-dasar Tasawuf Syekh Ahmad Al-Tijani

Untuk dapat mengikuti dan atau memahami dengan baik dan benar dasar-dasar tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani, terlebih dahulu harus difahami tentang dua hal yang melandasi ajaran tasawufnya. Lantaran penilaian dan pengertian yang didapat merupakan pengantar untuk mengetahui dasar-dasar ajaran tasawufnya dengan benar. Dua hal dimaksud adalah :

1. Tentang landasan bangunan tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani
Dasar-dasar tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani di bangun di atas landasan dua corak tasawuf, yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Dengan kata lain, Syekh Ahmad al-Tijani menggabungkan dua corak tasawuf, dimaksud dalam ajaran thariqatnya.

Pengkajian menyangkut tasawuf falsafi, bukan sesuatu hal yang sederhana, sebab pengkajian ini sudah masuk dalam wilayah pemikiran; dan kaum thariqat, terlebih ummat Islam pada umumnya yang mempunyai kemauan dan kemampuan untuk memasuki wilayah ini sangat terbatas. Keterbatasn ini, ditunjukan dalam sejarah pekembangan pemikiran Islam khusunya bidang tasawuf, banyak ummat Islam, menilai, bahwa tasawuf falsafi dianggap sebagai pemikiran yang menyimpang dari ajaran syari’at Islam.

Dasar-dasar tasawuf falsafi yang dikembangkan Syekh Ahmad at-Tijani adalah tentang maqam Nabi Muhammad saw., sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah dan rumusan wali Khatm. Dua hal ini telah dibahas oleh sufi-sufi filusuf, seperti al-Jilli, ibn al-Farid dan ibn Arabi. Tentang pemikiran sufi-sufi ini, Syekh Ahmad al-Tijani mengembangkan dalam amalan shalawat wirid thariqatnya, yakni : shalawat fatih dan shalawat jauhrat al-Kamal. Konsep dasar haqiqat al-Muhammadiyyah ini disamping kontropersial, ia juga complicated. Atas dasar ini, tidaklah mengherankan apabila Syekh Ahmad al-Tijani memberikan “aba-aba” kepada setiap orang, termasuk muridnya yang ingin memasuki secara lebih jauh tentang diri dan thariqatnya. Untuk itu Syekh Ahmad al-Tijani menegaskan :
إِذَا سَمِعْهتُمْ عَنِّى شَيْأً فَزِنُوْهُ بِمِيْزَانِ الشَّرْعِ فَمَا وَافَقَ فَخُذُوْهُ وَمَاخَالَفَ فَاتْرُكُوْهُ
Artinya : “Apabila kamu mendengar apa saja dariku, maka timbanglah ia dengan neraca (mizan) syari’at. Apabila ia cocok, kerjakanlah dan apabila menyalahinya, maka tinggalkanlah”.

Menurut KH. Fauzan, penegasan Syekh Ahmad al-Tijani ini merupakan pertanggung jawaban yang terbuka, lapang dada dan menyeluruh terhadap ajaran yang dikembangkannya. Sedangkan KH. Badruzzaman melihat bahwa penegasan Syekh Ahmad al-Tijani tadi menunjukan pertaggung jawabannya bahwa segala sesuatu yang diungkapkannya mempunyai dasar-dasar syari’at.

Hemat penulis, penegasan Syekh Ahmad al-Tijani di atas dilatarbelakangi dua hal : Pertama; Ia sendiri menyadari banyak ungkapan-ungkapan pengalaman spiritual dan fatwanya, akan sulit dijangkau oleh pemahaman masyarakat umum. Untuk itu, beliau menekankan untuk senantiasa mengembalikan kepada tatanan dasar syair’at. Dengan kata lain, secara terbuka dan tegas ia mengharuskan setiap orang yang akan meneliti ajarannya untuk senantiasa terlebih dahulu memahami petunjuk-petunjuk al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad saw., secara menyeluruh dan mendalam. Kedua; Penegasan tersebut, dikarenakan “kekhawatirannya”, akan terjadi salah atau kurang tepat dalam memahami pengalaman spiritual dan fatwanya-fatwanya, sehingga tidak sesuai atau salah alamat dari apa yang dimaksudkan oleh dirinya. Kekhawatiran ini, didasarkan atas upaya penggabungan dua corak tasawuf yang dirumuskan dalam bentuk bacaan thariqatnya sebagai mana telah disebutkan.

Sejak abad ke- Hijri, ajaran taswuf terpisah menjadi dua corak yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang dalam sejarah perkembangannya masing-masing mempunyai metode tersendiri. Sebagai wali yang mengaku memperoleh maqam wali khatm, al-Quthb al-Maktum, ia menyatukan kembali dan atau mengutuhkan kembali dua corak tasawuf tersebut. Hemat penulis, disinilah keunggulan Syekh Ahmad al-Tijani. Dan diduga peran inilah yang dimaksud dengan ungkapannya :
قدماي هتان على رقبة كل ولتى لله تعالى.
“Dua kakiku ini di atas tengkuk semua Waly Allah Swt.”

Agaknya, hal tersebut di atas, sangat diantisipasi oleh KH. Badruzzaman, ia menegaskan, bahwa dalam melihat dan memahami fatwa-fatwa Syekh Ahmad al-Tijani, senantiasa harus melihatnya melalui petunjuk al-Qur’an dan sunnah secara menyeluruh dan mendalam, lahiriyah dan batiniyah. Penegasan KH. Badruzzaman ini, didasarkan atas pengalaman dirinya dalam menganalisis Syekh Ahmad al-Tijani dan Thariqatnya; dimana sebelum merintis pengembangan ajaran thariqat tijaniyah, ia adalah “penentang yang gigih” terhadap thariqat ini.

2. Tentang Rumusan Ajaran Tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani.
Landasan tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani, sebagai mana telah dijelaskan membangun rumusan tasawufnya. Ada dua rumusan tasawuf yang dikemukakannya :

a. Tentang definisi tasawuf; menurut Syekh Ahmad al-Tijani, tasawuf adalah :
إِمْتِثَالُ اْلاَوَامِرِ وَاجْتِنَابُ النَّوَاهِى فِى الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ مِنْ حَيْثُ يَرْضَ لاَمِنْ حَيْثُ تَرْضَ
Artinya : “Patuh mengamalkan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik lahir maupun batin, sesuai dengan ridha-Nya bukan sesuai dengan ridha’mu”.

Melalui rumusan definisi di atas, Syekh Ahmad al-Tijani ingin menunjukan bahwa pada dasarnya, ajaran tasawuf merupakan pengamalan syari’at Islam secara utuh, sebagai sarana menuju Tuhan dan menyatu dalam kehendak-Nya. Keterpaduan dalam tasawuf yang diajarkan Syekh Ahmad al-Tijani antara amaliah lahir dan amaliah batin, adalah sebagai wujud pengamalan syari’at Islam secara keseluruhan. Sebab pada bagian lain ia menyatakan bahwa ilmu tasawuf adalah : “Ilmu yang terpaut dalam qalbu para wali yang bercahaya karena mengamalkan al-Qur’an dan sunnah.

Sejalan dengan pendapat ini, al-Tusturi (w. 456 H.) mengatakan bahwa ilmu tasawuf dibangun melalui kekuatan keterikatan terhadap Qur’an dan Sunnah.

Sebagai wujud keterikatan Syekh Ahmad Al-Tijani dan thariqatnya terhadap syari’at, ia mengatakan bahwa syarat utama bagi orang yang mau mengikuti ajarannya adalah memelihara shalat lima waktu dan segala urusan syari’at. Dalam mengomentari landasan tasawuf yang diajarkan Syekh Ahmad al-Tijani, Muhammad al-Hapidz dalam ahzab wa awrad, mengatakan :
والاصل الذى اسّس شيخنارصى الله المحا فظة على الشريعة علماوعملا.
“Landasan pokok Thariqat Tijaniyah yang menjadi asas penopangnya adalah menjaga syari’at yang mulia, baik ilmiyah maupun alamiyah”
Sedangkan KH. Badruzzaman, mengatakan bahwa landasan pokok Thariqat tijaniyah adalah memelihara syari’at yang mulia baik yang berhubungan dengan amaliah kalbu seperti khusyu (khusyuk), ikhlas (ikhlas) dan tawadha (rendah hati).

b. Tentang penegasan ajaran tasawufnya
Sebagai wujud penekanan keterikatan ajarannya terhadap syari’at, Syekh al-Tijani menegaskan bahwa patokan utama pengembangan ajarannya adalah al-Qur’an dan sunnah. Lebih tegas ia menyatakan :
وَلَنَا قَاعِدَةٌ وَاحِدَةٌ عَنْهَا تُنْبِئُ جَمِيْعَ اْلأُصُوْلِ اَنَّهُ لاَحُكْمَ اِلاَِّللهِ وَرَسُوْلِهِ وَلاَعِبْرَةَ فِى الحُكْمِ اِلاَّ بِقَوْلِ الله ِوقَوْلِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Kami hanya mempunyai satu pedoman (Kaidah) sebagai sumber semua pokok persoalan (ushul), bahwasanya tidak ada hukum kecuali kepunyaan Allah dan Rasul-Nya, tidak ada ibarat dalam hukum kecuali firman Allah swt., dan sabda Rasul-Nya.
Penekanan Syekh Ahmad al-Tijani ini, dimaksudkan untuk menegaskan keterikatan ajarannya terhadap syari’at (al-Qur’an dan sunnah).

Oleh : SyIB
Admin : MAH

Karakteristik Amalan Wirid Istighfar

Apabila dirujuk, pola istighfar yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw., sebagai mana terdapat dalam hadis-hadis shahih, maka akan ditemui dua pola istighfar. Pertama pola istighfar yang diakhiri dengan kalimat وَاَتُوْبُ إلَيْكَ “(Aku bertobat kepada Allah)” sebagaimana teks berikut :
أسْتَغْفِرُ الله َالْعَظِيْمَ اَلَّذي لاَإِلهَ إِلاَّهُوَالْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ إلَيْكَ
Kedua, pola istighfar yang tidak diakhiri dengan kalimat وَاَتُوْبُ إلَيْكَ , sebagamana teks berikut :
أسْتَغْفِرُ الله َالْعَظِيْمَ اَلَّذي لاَإِلهَ إِلاَّهُوَالْحَيَّ الْقَيُّوْمُ
Kedua pola istighfar tersebut sama-sama pernah dilakukan oleh Rasulullah saw., dan mempunyai fungsi yang berlainan.
Dengan melihat kepada dua pola istighfar yang diajarkan Nabi Muhammad saw., amalan Thariqat Tijaniyah mempergunakan pola yang tidak disertai dengan kalimat tersebut. Dalam Fath al-Rabbani dikatakan, bahwa hal ini merupakan penyelamatan diri dosa yang timbul dari bacaan istighfar itu sendiri, sebab menurutnya, tambahan kalimat tersebut mengandung arti bahwa orang yang membaca istighfar tersebut telah mengklaim dirinya sebagai orang yang melaksanakan thaubat (tobat). Apabila dalam kenyataannya ia tidak melaksanakan thaubat dengan sungguh-sungguh, misalnya ia tetap melaksankan maksiat terhadap Allah, dengan sendirinya secara tidak disadari, ia telah melakukan dosa dari dua sisi. Pertama, dosa dari perbuatan maksiat itu sendiri, dan kedua, dosa dari bacaan istighfarnya. Lain halnya dengan pola istighfar yang tanpa kalimat وَاَتُوْبُ إلَيْكَ melalui bacaan istighfar, hanya minta ampunan Allah swt.
Sungguhpun demikian ada persyaratan mutlak bagi orang yang mau diterima dilingkungan Thariqat Tijaniyah adalah orang yang mau berthaubat dan menyesali perbuatan dosanya, dan mau melaksanakan semua kewajiban Thariqatnya, melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya, lebih mementingkan kebersihan hati dari segala macam penyakitnya yang samar dan menjauhi segala perbuatan maksiat lahir, disiplin dalam melaksanakan kewajiban yang bersifat individual (fardu a’in) dan memperbanyak amaliah penebus dosa. Diantara amaliah penebus dosa adalah membaca istighfar.
Agaknya pola istighfar yang terdapat dalam wirid thariqat tijaniyah, sekalipun tanpa memakai kaimat وَاَتُوْبُ إلَيْكَ apabila dihubungkan dengan beberapa ketentuan bagi setiap murid, maka membaca istighfar sudah mengandung pengertian melaksanakan thaubat.
Pilihan pola demikian bagi thariqat tijaniyah, dimaksudkan untuk meletakan kedisiplinan pada konsekuensi kejujuran dan keserasian antara ucapan dan perilaku, bukan kesimpangsiuran antara ucapan, tingkah laku dan hati nurani.

Oleh : SyIB
Admin : MAH

Wirid Hailallah

Wirid hailallah, dilaksanakan satu kali dalam seminggu, yakni pada setiap hari Jum’at setelah shalat ashar dengan cara membaca dzikr لاَإِلهَ إِلاَّالله “(tidak ada Tuhan selain Allah)” atau Ism al-Dzat (الله) yang dilaksanakan secara berjama’ah sampai datangnya waktu Maghrib. Pengalokasian waktu hailallah pada hari jum’at setelah shalat ashar, berkaitan dengan waktu mustajab (saat ijabah). Dalam hadis dikatakan bahwa di akhir waktu ashar pada hari Jum’at terdapat waktu mustajab.
Apabila wirid hailallah dilakukan munfarid (sendirian) karena ada halangan, misalnya, maka harus dilaksanakan dengan ketentuan membaca dzikir sebanyak 1600 kali atau minimal 1000 kali, dan tidak di haruskan sampai datangnya waktu Maghrib.
Praktek Wirid hailallah sebagai berikut :
a. Membaca niat untuk mengamalkan wirid hailallah.
b. Membaca dzikir mulai selesai shalat ashar sampai waktu maghrib. Apabila dilaksanakan munfarid membaca dzikir minimal 1000x, maksimal 1600x..
Apabila dalam wirid lazimah, ditekankan untuk membersihkan diri dari segala bentuk kotoran maksiat dengan dasar amalan istighfar, kemudian membina komitmen dengan Rasul dengan jalan mengamalkan segenap sunnahnya bahkan sampai pada tingkat bisa “berhubungan” dengan Rasul secara langsung melalui amalan dasar shalawat sebagaimana terdapat dalam wirid Wadzifah, maka dalam wirid hailallah, penekanannya ditujukan terhadap amalan dzikir.
Amalan dzikir dalam hailallah dibaca oleh murid setelah bersih dan suci melalui bacaan istighfar dan setelah mendekatkan diri kepada pembimbing utama yakni Nabi Muhammad saw., selanjutnya ia menuju benteng Allah swt., dengan dzikir, tentang hal ini dalam hadis dikatakan :
اَفْضَلُ مَا قُلْتُ اَنَاوَالنَّبِيُوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَاِلهَ اِلاَالله
“Seutama-seutama apa yang diucapkan olehku dan nabi-nabi sebelum aku ialah : La ilaha Illallah.”
Dalam hadis lain dikatakan :
لاَاِلهَ اِلاَالله حِصْنِيْ وَمَنْ دَخَلَ حِصْنِيْ اُمِنَ مِنْ عَذَابِيْ.
“La ilaha Illallah adalah benteng-Ku dan barangsiapa yang masuk benteng-Ku, maka dia selamat dari siksa-Ku.”
Dalam wirid hailallah, amalan dzikir mempunyai fungsi menggerakan ruh untuk membangun tauhid zauqi.
Amalan dzikir dalam hailallah mendidik murid senantiasa komitmen dengan Allah secara lahir dan batin, sehingga yang digoreskan dalam hati dan yang diucapkan oleh lisan yakni zikir, berjalan terus menerus. Hal ini dimaksudkan untuk menolak setiap goresan jelek dalam pikiran. Sehingga akhirnya, menghasilkan pikiran yang jernih (bersih) dari goresan-goresan selain Allah, akhirnya sampai pada maqam kewalian. Selanjutnya dikatakan, amalan zikir, pada dasarnya merupakan dasar-dasar amalan yang harus di kembangkan oleh para murid untuk mencapai kewalian. Hal ini, berarti bahwa inti ajaran zikir dalam thariqat tijaniyah, adalah mengarahkan murid untuk sampai pada tingkat atau derajat kewalian dan ini hanya akan dapat ditempuh setelah ia menata maqam persiapan yakni maqam Taubat yang ditekankan dalam wirid lazimah dan maqam istiqamah yang ditekankan dalam wirid Wadzifah.

Oleh : SyIB
Admin : MAH

Wirid Wadzifah

Wirid ini dilaksanakan satu kali dalam sehari semalam, waktu wiridnya bisa dilakukan kapan saja; meliputi bacaan istighfar Wadzifah 30 X, shalawat fatih 50 X, dzikir 100 X dan shalawat jauharat al-Kamal 12 X. Praktek wirid Wadzifah adalah sebagai berikut :
a. Membaca niat untuk mengamalkan wirid wadzifah.
b. Membaca istighfar wadzifah sebagai berikut “اَسْتَغْفِرُالله َالعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَاِلهَ إلاَّهُوَالْحَيَّ الْقَيُّوْمُ.” 30x.
c. Membaca Shalawat al-Fatih sebagai berikut “اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.” 50x.
d. Membaca Tahlil : “لاَإِلهَ إلاَّالله “99x, dilanjutkan dengan bacaan “لاَإِلهَ إلاَّالله ُمُحَمَّدٌرَّسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ سَلاَمُ للهِ . “ (dipanjangkan bacaannya).
e. Membaca shalawat Jauharat al-Kamal sebagai berikut :
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِالْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِى وَنُوْرِاْلاَكْوَانِ الْمُتَكَوَّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ اْلحَقِّ اْلرَّبَّانِى اْلبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوَنِ اْلأَرْبَاحِ اْلمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِه كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ اْلمَكاَنِى اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ الَّتِى تَتَجَلّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ عَيْنِ اْلمَعَارْفِ اْلأَقْوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى طَلْعَةِ اْلحَقِّ بِا الْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ صَلاَةًتُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ “12 x .
Apabila dalam wirid lazimah aspek bacaan istighfar dengan segala ketentuannya menjadi prioritas utama, maka dalam wirid Wadzifah penekanan lebih ditujukan pada unsur bacaan shalawat.
Selanjutnya bacaan shalawat dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada makhluk yang dicintai Allah swt., yaitu Nabi Muhammad saw., beliau adalah makhluk yang mendapat gelar Habib Allah (kekasih Allah). Allah swt., memerintahkan kepada ummat yang beriman agar mengerjakan shalat, memerintah kita mengeluarkan zakat, memerintah kita berpuasa, memerintahkan kita haji, dan perintah-perintah itu tidak disertai firman : “Allah mengerjakan shalat, Allah mengeluarkan zakat, Allah berpuasa, Allah menunaikan haji”. Akan tetapi Allah swt., memerintahkan bershalawat atas Nabi Muhammad saw., dengan disertai bahkan didahului pernyataan, bahwa Allah swt., dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi Muhammad saw., dalam firmannya surat al-Ahzab ayat 56 :
إِنَّ الله َ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا
Artinya : ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya sama-sama bershalawat atas Nabi Muhammad saw., wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atas Nabi Muhammad dan sampaikan salam kepadanya”.
Ayat di atas menunjukan bahwa posisi Nabi Muhammad saw., adalah makhluk yang diistimewakan oleh Allah swt. At-Tijani menyebutnya sebagai makhluk yang paling ma’rifah (mengenal Allah) dan paling dekat pada Allah swt. Karena itu untuk menghadap dan menuju Allah swt., terlebih dulu murid harus mendekatkan diri kepada beliau dengan cara membaca shalawat. Selain itu, membaca shalawat merupakan sarana untuk meraih rahmat Allah swt. Dalam sebuah hadis dikatakan :
“Nabi Muhammad saw., adalah makhluk yang paling tahu, yang paling ma’rifat serta yang terdekat pada Allah swt. Karena itu, maka kita dalam menghadap dan menuju wushul kepada Allah swt., mendekat kepada beliau agar kita tidak bingung dan supaya kita dalam menghadap dan menuju wushul kepada Allah swt., mendekat kepada beliau agar kita tidak bingung dan supaya kita tidak salah alamat dari apa yang kita tuju dengan dengan memperbanyak membaca shalawat. Dengan memperbanyak membaca shalawat kita menjadi dekat dengannya”.
Dalam hadis lain dikatakan :
ان صلاة امتي تعرض على في كل يوم جمعة فمن كان اكثرهم على صلاة كان اقربهم مني منـزلة. (رواه البيهقي باسنادحسن)
Sesungguhnya shalawat umatku diperlihatkan kepada tiap-tiap hari Jum’at. Maka barang siapa terbanyak di antara mereka membaca shalawat atasku, merekalah yang terdekat tempatnya kepadaku. {Hadits riwayat Baihaqy dengan isnad yang hasan}.
Disamping itu pahala membaca shalawat sangat besar sekali yang sebagian seperti hadits di bawah ini :
من صلى على مرة صلى الله عليه عشرا ومن صلى على عشراصلى الله عليه مائة ومن صلى على مائة كتب الله تعالى بين عينيه براءة من النفاق وبراءة من النار واسكنه الله يوم القيامة مع الشهداء. رواه الطبرانى مرفوعا.
Artinya : ”Barang siapa bershalawat atasku satu kali, maka Allah bershalawat atas dia sepuluh kali, barang siapa bershalawat atasku sepuluh kali, maka Allah bershalawat atas dia seratus kali, maka Allah menulis di antara kedua matanya : bebas dari kemunafiqan, bebas dari neraka, dan di hari kiamat, oleh Allah dia ditempatkan bersama para Syuhada. Hadits Marfu’ Riwayat Thabrany”.

Dalam wirid Wadzifah terdapat dua jenis bacaan shalawat, yakni shalawat Fatih dan shalawat Jauharat al-Kamal.
Dalam kaitannya dengan bacaan shalawat, dalam wirid Wadzifah terdapat dua asfek penekanan yaitu aspek syukur yang didasarkan pada posisi Nabi Muhammad sebagai al-Fatih Lima Ughliq dan aspek mahabbah.
Dengan demikian selain aspek syukur yang telah dikemukakan di atas, juga membaca shalawat bagi murid mempunyai dasar mahabbah terhadap Nabi Muhammad saw. Mahabbah terhadap Nabi Muhammad saw., dibuktikan dalam amalan shalawat, sebab pada dasarnya mahabbah itu sendiri mempunyai arti yang dangat besar dalam mebina hubungan yang berkesinambungan dengan Nabi Muhammad saw. selanjutnya dalam Jawhir al-Ma’ani dikutip sebuah hadis :
يحشرالمرء مع من احبّ
“Kelak akan dikumpulkan seseorang bersama orang yang dicintainya”.
Selanjutnya dalam Jawahir al-Ma’ani dikatakan, bahwa mahabbah itu sendiri harud diikuti dengan mengamalkan sunnahnya, petunjuknya, dan mengikuti seluruh perjalanan hidupnya. Untuk lebih memantapkan mahabbah ar-Rasul, dalam Jawahir al-Ma’ani ditegaskan :
“Hendaknya murid menyesuaikan diri dengan al-Mahbub (nabi muhammad saw.) dalam segala keadaan., kemudian menghancurkan sifat-sifatnya atau memfana’kan diri untuk tenggelam dalam sifat-sifat al-Mahbub, dengan jalan menghibahkan seluruh jiwa dan raga bagi al-Mahbub, selanjutnya, menghapus segala sesuatu selain al-mahbub dari lubuk hatinya, dan akhirnya menganggap bahwa dirinya (murid) kecil dihadapan al-Mahbub”.
Dari ungkapan-ungkapan di atas, jelas sekali bahwa membaca shalawat kepada Nabi, pada dasarnya mengandung makna cinta, mengagungkan, dan diikuti dengan melaksanakan sunnah secara total.dalam kaitannya dengan ungkapan tadi, pengarang Jawahir al-Ma’ani, mengutip ayat al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 21 :
قل ان كنتم تحبّون الله فاتبعونى.
Artinya : “katakanlah wahai Muhammad, apabila kamu sekalian mencitai Allah, maka ikutilah aku.”
Ayat ini menegaskan bahwa mengikuti Rasul merupakan tanda mahabbah seseorang terhadap Tuhannya. Selanjutnya dalam jawahir al-Ma’ani dikatakan :
“Mahabbah terhadap Allah harus dibuktikan dengan mengikuti kekasih-Nya (Nabi Muhammad saw.) secara lahir dan batin, membenarkan seluruh beritanya, taat teradap seluruh perintahnya, memenuhi segala segala panggilannya, memfana’kan mahabah terhadap yang lain dengan mahabbah terhadapnya, dan memfana’kan taat kepada yang lain dengan taat kepadanya. Kalau tidak demikian, tidaklah dikatakan mahabbah, sehingga Rasul dijadikan sebagai obat hati sanubari, istirahat jiwa, dan merupakan kenikmatan ruh.”
Dengan demikian apabila murid telah merasakan keadaan-keadaan seperti disebutkan di atas, maka barulah ia bisa dikatakan sudah berada dalam maqam Mahabbah ar-Rasul. Tanda-tanda bahwa murid yang bersangkutan berada dalam Mahabbah ar-Rasul adalah :
“Ia selalu rindu untuk bertemu dengan al-Mahbub, dan terus menerus mempalajari sunnahnya”.
Konsep sukur dan mahabbah sebagaimana digambarkan di atas, pada intinya harus dibuktikan dengan kecintaan terhadap segala sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad saw., melalui pengamalan terhadap segala sunnahnya.
Dengan demikian pengamalan terhadap sunnah merupakan kunci keberhasilan murid yang bersangkutan dalam menjalani maqamnya, yakni maqam istiqamah.
Sebagaimana dikatakan dalam Jawahir al-Ma’ani : “Nabi Muhammad merupakan pintu untuk bisa wushul terhadap Allah. Seseorang jangan mengharap bisa wushul kepada-Nya tanpa melalui pintu Nabi”. Yang dimaksud dengan pintu disini, yaitu mengikuti syari’atnya, dan berahlak sebagaimana ahlaknya. Lebih tegas lagi dikatakan : “Pada dasarnya kebaikan itu hanyalah dalam mengikuti sunnah Nabi, sedangkan kejelekan berada dalam kebalikannya”.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, aspek yang ditekankan dalam wirid Wadzifah adalah bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad saw., yang ditekankan dalam wirid Wadzifah itu, dasarnya, mempunyai maksud peningkatan maqam, yakni dari maqam taubat yang ditekankan dalam wirid lazimah menuju maqam istiqamah. Yang dimaskud dengan maqam istiqamah adalah: “Teguh dalam melaksanakan sunnah, dengan harapan tertanamnya nilai-nilai ittiba’ pada Rasul dalam diri murid sebab kalau tidak demikian, ia jangan mengharap bisa naik kepada maqam selanjutnya”.
Untuk memantapkan maqam istiqamah, murid yang bersangkutan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
“Ia (Murid) senantiasa harus berhubungan dengan orang-orang yang mengamalkan sunnah dan menjauhi orang-orang yang senantiasa melakukan bid’ah Agar setiap gerak dan diamnya senantiasa berada dalam posisi taqarrub dengan Allah. Kemudian mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan syari’ah disertai dengan penyerahan pemikiran terhadap ketentuan syara’.
Selain hal di atas, bacaan shalawat dalam wirid Wadzifah mempunyai fungsi membina dan mengarahkan murid untuk sampai pada tingkat bisa “berhubungan” dengan Nabi Muhammad saw., dalam Jawahir al-Ma’ani dijelaskan apabila murid membaca shalawat Jauharat al-Kamal, maka ia ditekankan untuk lebih mengkonsentrasikan diri sampai pada tingkat bisa “menghadirkan” Rasul. Oleh karena itu dalam kaifiyat membaca shalawat Jauharat al-Kamal, ada ketentuan apabila telah sampai pada bilangan tujuh kali, maka murid harus menundukan kepala disertai perasaan khudu’ dan khusyu. Dengan demikian wirid Wadzifah diarahkan untuk membina “hubungan langsung” dengan Rasul.

Oleh : SyIB
Admin : MAH

Wirid Lazimah

Wirid Lazimah, harus dikerjakan dua kali setiap hari (pagi dan sore) dan dilaksanakan secara munfarid (perseorangan), bacaanya tidak boleh dikeraskan. Untuk waktu pagi, pelaksanaannya adalah setelah shalat subuh sampai datangnya waktu dhuha; dan untuk waktu sore, pelaksanaannya setelah shalat ashar sampai datangnya waktu shalat ‘isya. Jika ada uzur, waktu wirid Lazimah Pagi bisa dimajukan sampai datangnya waktu Magrib; sedangkan wirid lazimah sore hari bisa dimajukan sampai datangnya waktu Subuh. Amalan wirid lazimah meliputi tiga unsur bacaan : istighfar, shalawat, dan dzikr {tahlil} . dengan ketentuan wirid sebagai berikut :
a. Membaca niat untuk mengamalkan wirid lazimah (pagi hari dan sore hari).
b. Membaca istighfar sebagai berikut : استغفر الله 100x.
c. Membaca shalawat 100x dengan sighat apa saja. Bacaan shalawat yang ringkas sebagai berikut “اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَّعَلَى آلِهِ”, namun lebih utama membaca shalawat fatih sebagai berikut :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.
d. Membaca Tahlil : “لاَإِلهَ إلاَّالله ُ “ 99x, dilanjutkan dengan bacaan “لاَإِلهَ إلاَّالله ُمُحَمَّدٌرَّسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ سَلاَمُ للهِ “ (dipanjangkan bacaannya).
Telah dikatakan bahwa amalan wirid lazimah meliputi tiga unsur : Istighfar, shalawat dan dzikir. Unsur-unsur wirid tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dalam artian masing-masing melengkapi satu sama lain :
(1) Bacaan Istighfar
Unsur bacaan ini, dimaksudkan atau berfungsi membersihkan diri dari kotoran maksiat. Sebab pada dasarnya tujuan masuk Thariqat ialah Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt. Oleh karena itu, terlebih dahulu murid harus beristighfar (minta ampunan) sebagai pembersih dan pensuci dosa. Pada intinya istighfar menjadi proses upaya menghilangkan noda-noda rohaniah dan menggantinya dengan nilai-nilai suci. Untuk itu dirujuk ayat al-Qur’an surat an-Nisa ayat 110 :
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوْءً اَوْيَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِالله َيَجِدِالله َ غَفُوْرًارَحِيْمَا
Artinya : “Barang siapa berbuat kejelekan atau menganiaya dirinya kemudian dia beristighfar (minta ampunan) pada Allah, maka Allah akan mengampuni”
Dalam sebuah hadis katakan
عن انس رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : قال الله تعالى ياابن آدم انك مادعوتنبى ورجوتنيى غفرت لك على ماكان ولا ابالي, ياابن آدم لوبلغت دنوبك عنان السماء ثم استغفرت غفرت لك ياابن آدم لواتيتني بقراب الارض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لاتيتك بقرابها مغفرة. رواه الترميدى
Dari S. Anas ra., ia berkata “Saya mendengar Rasulullah saw., bersabda : “Allah swt., berfirman : Hai anak Adam, selama kamu mendo’a kepada-Ku dan mengharap Aku, maka aku ampuni kamu atas apa saja yang yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam, andaikata dosa-dosa kamu menyundul langit kemudian kamu beristighfar, maka Kuampuni kamu. Ahai Anak Adam, andaikata kamu datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai Aku dengan tidak mensekutukan Aku sama sekali, maka pastilah Aku datang kepadamu dengan membawa sebesar bumi pengampunan. Hadits riwayat Attirmidzy.
Ayat Qur’an dan hadis Qudsi di atas menegaskan bahwa sebesar apapun kesalahan dan dosa anak Adam, apabila beristighfar dan atau bertobat, maka Allah menjanjikan, menyediakan ampunannya.
(2) Bacaan Shalawat
Unsur bacaan shalawat, dalam wirid ini, kurang mendapat penekanan. Membaca shalawat dalam wirid ini berfungsi sebagai Li at-Tabarruk (untuk mendapatkan berkah) dan washilah (perantara) supaya bacaan istighfar dan segala ketentuannya diterima oleh Allah swt. Lebih tegas at-Tijani mengatakan bahwa washilah (perantara) yang utama untuk bisa wushul (sampai) terhadap Allah adalah Nabi Muhammad saw., dan untuk bisa dekat dengan Nabi Muhammad saw., adalah melalui bacaan shalawat. Keyakinan ini didasarkan atas asar (perkataan sahabat) Ummar Ibn Khatab :
اِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوْفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلاَرْضِ حَتَّى تُصَلِّى عَلى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Artinya : “Do’a seorang hamba ditangguhkan antara langit dan bumi, sampai dibacakan shalawat kepada Nabi Muhammad saw.”.
Dalam sebuah hadis dikatakan :
صَلُّوْاعَلَىَّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ عَلَىَّ زَكَاةٌ لَكُمْ وَاسْاَلُوْا الله َلِى اَلْوَسِيْلَةَ
Artinya : “Hendaklah kalian membaca shalawat padaku, karena membaca shalawat kepadaku menjadi zakat (pembersih dan pengampun dosa kalian), dan mohonlah kepada Allah melalui wasilahku”.
Nabi Muhammad saw., banyak mengungkapkan betapa pentingnya dan keuatamaannya membaca shalawat, yang sasaran intinya adalah memohon rahmat Allah swt. Telah dikatakan, bahwa : “Apabila seseorang membaca shalawat (berdo’a) kepada Nabi Muhammad saw., satu kali, maka Allah akan memberi rahmat sepuluh kali lipat”. Hal ini menunjukan posisi Nabi Muhammad saw., dihadapan Allah berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Dengan kata lain beliau adalah makhluk yang diistimewakan oleh Allah.
(3) Bacaan Dzikr
Sebagaimana halnya bacaan shalawat, dalam wirid lazimah, bacaan dzikir juga kurang mendapat tekanan. Dalam wirid ini, dzikr dimaksudkan untuk menyatakan taubat yang sungguh-sungguh, sehingga dengan ucapan لاَإِلهَ إِلاَّالله (tidak ada tuhan selain Allah), murid seolah-olah mengatakan : “لاَيَغْفِرٌالذُّنُوْبَ إِلاَّالله ُ” “(tidak ada yang menghapus dosa kecuali Allah)”. Selain itu, dengan mengamalkan dzikr dalam wirid lazimah, diharapkan murid akan merasa sakit batinnya apabila tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat baik, dan selanjutnya akan melakukan (instropeksi) اَلْمُحاَسَبَة dengan harapan bisa memperbaiki keadaan dan sekaligus memelihara taubatnya dengan segala amal syari’at.
Dengan demikian, terdapat tiga unsur amal dalam wirid lazimah, yakni : Istighfar, shalawat kepada Nabi Muhammad saw., dan dzikr, yang pada dasarnya ditujukan bagi murid yang memantapkan maqam (peringkat) taubat. Jadi taubat adalah maqam pertama yang harus diusahakan oleh murid.
Adapun yang dimaksud dengan taubat menurut at-Tijani adalah mengembalikan diri dari kekufuran terhadap nikmat Allah, memperlihatkan sikap syukur terhadap Allah dengan jalan melaksanakan segala perintah-Nya. Taubat dilaksanakan sebagai upaya membersihkan diri dari sikap menyepelekan kewajiban syara; dan dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara; dengan kata lain, taubat adalah kembali kepada Allah dengan jalan melaksanakan syari’at Islam. Sebab pada dasarnya perjalanan yang harus ditempuh seorang murid menuju Allah sejak langkah awal sampai akhir harus menjalalankan syari’at. Tidak mungkin seseorang sampai (wushul) kepada Allah tanpa dasar syari’at. Seseorang yang menuju Allah tanpa dasar syri’at, tidak akan sampai (wushul) pada Allah, akan tetapi ia akan putus dengan-Nya.
Bahwa untuk tercapainya pelaksanaan taubat murid harus melaksanakan hal-hal berikut ini : Melepaskan diri dari dari segala perbuatan dosa, merasa sedih tehadap perbuatan dosa yang telah dilakukannya, mempunyai maksud yang kuat untuk tidak kembali kepada perbuatan maksiat, mempunyai tekad yang kuat untuk senantiasa beribadah kepada Allah dan merasa takut untuk tidak mensyukuri nikmatnya (kufur terhadap nikmatnya). Selanjutnya dikatakan, untuk terwujudnya sarat taubat tadi, ada beberapa adab (ketentuan) yang harus dilaksanakan yaitu : menghindar dari orang-orang yang senantiasa melaksanakan perbuatan maksiat dan orang yang mempunyai tabi’at yang jelek, bahkan murid harus senantiasa bergaul dengan orang-orang yang taat melaksanakan kebaikan, menjauhi tempat-tempat keramaian, yang tidak berguna dan tempat-tempat yang mengundang maksiat, dan tidak boleh banyak mengungkapkan kenikmatan nafsu syahwat.
Dengan demikian, bacaan istighfar dengan segala ketentuannya harus mendapat tekanan yang lebih besar, sehingga menghasilkan perasaan takut (khauf) terhadap siksa Allah apabila melanggar perintah-Nya
Uraian di atas menunjukan bahwa wirid lazimah pada dasarnya diarahkan untuk membina murid agar senantiasa membersihkan diri dari segala bentuk maksiat yang dianggap menyimpang dari aturan syari’at dan dari segala kelalaian-kelalaian dalam mengamalkan syari’at, sikap semacam inilah yang dimaksud dengan taubat. Banyak sekali perintah al-Qur’an agar orang beriman senantiasa melaksanakan taubat.

Oleh : SyIB
Admin : MAH

Amalan Wirid Thariqat Tijaniyah

Amalan wirid dalam thariqat tijaniyah terdapat tiga unsur pokok, yaitu istighfar, shalawat dan dzikir {tahlil}.
Ketiga unsur inti dzikr dalam Thariqat Tijaniyah —istighfar, shalawat dan tahlil— adalah substansi dalam kerangka teori tasawuf yang menjadi kerangka yang saling berkesinambungan dalam proses-proses pencapaiannya. Istighfar pada intinya menjadi proses upaya menghilangkan noda-noda rohaniah dan menggantinya dengan nilai-nilai suci. Sebagi tahap pemula dan sarana untuk memudahkan sasaran pendekatan diri kepada Allah. Shalawat, sebagai unsur kedua, menjadi materi pengisian setelah penyucian jiwa yang mengantarkan manusia yang bermunajat mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi media perantara antara manusia —sebagai salik— dengan Allah —sebagai zat yang dituju—. Sedangkan materi (substansi) yang sangat efektif untuk mengantarkan manusia menghadap dan menyatukan diri dengan Allah adalah kalimat dzikir yang mempunyai makna dan fungsi tertinggi di sisi Allah, yaitu Tahlil (makna lain dari inti tauhid) : Lailaha Illa Allah.
Ketiga unsur ini menunjukan struktur tahapan upaya berada di sisi Tuhan. KH. Badruzzaman mengatakan bahwa tiga unsur wirid Thariqat Tijaniyah yang dimaksud yakni istighfar, shalawat dan dzikir merupakan satu rangkaian tahap persiapan yang bersambungan. Tahap pertama : istighfar, berfungsi sebagai tahap pembersihan jiwa dari noda-noda maksiat dan perilaku yang bertentangan dengan perintah Allah swt. Pembersihan ini, sebagai tahap persiapan menuju tahap pengisian jiwa dengan rahasia-rahasia shalawat. Tahap kedua : shalawat, berfungsi sebagai cahaya penerang hati, pembersih sisa-sisa kotoran , dan pelebur kegelapan hati. Fungsi demikian sangat penting karena menjadi tahap persiapan menuju rahasia tauhid. Tahap ketiga : Tauhid (makna lain dari inti tahlil), sebagai tahap menuju berada disisi Tuhan sedekat mungkin. Oleh karena itu menurut Habib J’afar Baharun, tiga unsur wirid dalam thariqat tijaniyah ini merupakan akar yang harus dipelihara untuk bisa menumbuhkan kedekatan kepada Allah Swt.
Menurut Muhammad al-Syinqiti, dua unsur yang pertama, Istighfar dan shalawat, biasanya menjadi unsur pokok yang harus ditempuh oleh setiap murid yang menempuh jalur suluk dari thariqat mana saja di dalam setiap maqam tasawuf. Istighfar menjadi element khusus untuk menempati maqam taubat, sedangkan shalawat menjadi element khusus untuk menempati maqam istiqamah. Keduanya mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap maqam khusus lainnya yang ditempuh oleh salik (penempuh suluk) dalam suluk-nya.
Bentuk amalan wirid Thariqat Tijaniyah terdiri dari dua jenis : (1) wirid Lazimah (kewajiban), yakni wirid-wirid yang wajib diamalkan oleh setiap murid tijaniyah, tidak boleh tidak, dan yang memiliki ketentuan pengamalan dan waktu serta menjadi ukuran sah tidaknya menjadi murid tijaniyah. (2) Wirid ikhtiariyah, yakni wirid yang tidak mempunyai ketentuan kewajiban untuk diamalkan dan tidak menjadi ukuran sah atau tidaknya menjadi murid tijaniyah.
Tiga unsur amalan wirid sebagaimana disebutkan di atas, yakni istighfar, shalawat dan dzikir tersistimatisir dalam tiga jenis wirid : wirid lazimah, wadzhifah dan hailallah

Oleh : SyIB
Admin : MAH

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.